Minggu, 17 Agustus 2014

Kabbalah, Aspek Feminim Judaisme





Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 260).

“Berusahalah melihat cahaya surgawi, karena aku telah membawamu masuk kedalam sebuah samudra yang luas. Hati hatilah! Berusahalah melihat, tetapi jangan sampai mati tenggelam” (Isaac of Akko)

Setiap agama monotheis menumbuhkan cabang mistis yang menyediakan keakraban yang lebih besar dengan Tuhan dibandingkan dengan dogma dan institusi kepercayaan induknya, yang acapkali justru mengeras. Cabang ini mendorong batas devosi, kontemplasi, dan memberi semangat baru pada iman tersebut. Dari Islam muncul sufisme atau tasawuf, dari Kristen muncul mistisisme Abad Pertengahan –dan dari Yahudi muncul Kabbalah. Dalam dunia sekuler ada suatu atmosfer misteri dan rahasia suci tentang Kabbalah, dan buku-buku populer yang berkaitan dengan Kabbalah juga memasarkan atmosfer ini sebagai alat untuk menyelesaikan masalah para pembacanya. Yang lebih menarik lagi, Kabbalah menampilkan aspek feminim dari agama Yahudi.

Pada tahun 1280, Moses de Leon, seorang mistikus Yahudi berkebangsaan Spanyol, menghasilkan sekumpulan tulisan yang ia nyatakan sebagai “wahyu”. Kumpulan tulisan ini tumbuh menjadi Sefer ha Zohar (The Book of Radiance), yang ditulis dalam bahasa Aramaic. Tulisan ini pada dasarnya adalah ulasan tentang Taurat dalam bentuk fiksi, menjadi Zohar yang dikenal sekarang. Zohar mengungkap Taurat sebagai kode yang mencerminkan mekanisme penciptaan, atau bagaimana dunia ini muncul dari Tuhan.

Sementara itu, pada tahun 1492, orang Yahudi diusir dari Spanyol dan banyak penganut Kabbalah yang pergi ke Palestina, yaitu ke desa Safed di utara Danau Galilea. Guru yang paling terkenal adalah Moses Cordovero yang tulisannya, The Pomegranate Orchad, merangkum kebijaksanaan Kabbalah selama tiga abad. Pengaruh Kabbalah dianggap mempengaruhi para filsuf non Yahudi abad 19 dan 20 seperti Gottfried Leibnitz, Emanuel Swedenborg, dan William Blake.

APAKAH ITU KABBALA?
Tujuan praktik Kabbalah adalah membawa seseorang kembali ke “kesadaran kosmis” atau persatuan mistis dengan Tuhan yang pernah dinikmati manusia di masa awal penciptaannya, sebelum “jatuh” ke dalam pengetahuan yang baik dan yang jahat (disimbolkan dengan Adam dan Hawa). Untuk mencapai tujuan mistis ini sambil tetap berada dalam Yudaisme konvensional, sebagaimana yang diterangkan Daniel C. Matt bahwa para penganut Kabbalah pertama harus tetap menaati ajaran dan hukum tradisional. Mereka tetap menaati Talmud (bentuk dasar dari hukum, cerita, dan adat Yahudi) dan Kitab Suci, yang menampilkan nilai nilai maskulin tradisional Tuhan, tetapi berusaha mengimbanginya dengan ekplorasi aspek ilahi yang lebih feminim (disimbolkan dengan arketipe wanita atau dewi, Shekhinah) yang mereka yakini berguna bagi persatuan mistis.

Pencerahan yang satu ini tidak bisa dicapai hanya melalui pembelajaran intelektual, maka dirancanglah sistem pembelajaran berdasarkan Sefirot, peta kesadaran yang membangkitkan setiap aspek ciptaan atau manusia. Sepuluh kapal Sebelum Kabbalah muncul, ada Sefer Yetsirah (The Book of Creation), buku tentang mistisisme Yahudi. Buku ini mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan cara bersabda dalam kombinasi huruf-huruf suci dan entitas numerik, 10 Sefirot. Semua ini datang dari Ein Sof, esensi Ilahi atau kuasa Ilahi yang tidak bisa diketahui yang melampaui ruang dan waktu.

Untuk lebih jelasnya dapat diterangkan secara konseptual, meski singkat, sebagai berikut: Dalam kekosongan dan kehampaan Ein Sof, muncul seberkas cahaya. Cahaya tersebut mulai masuk kedalam kotak atau kapal (sefirot) spiritual. Sebagian kapal ini tidak tahan dengan cahaya ilahi ini dan hancur. Sebagian cahaya kembali ke sumbernya, tetapi sisa kepingan kapal, ditambah percikan yang dihasilkannya, terperangkap dalam eksistensi material. Tugas manusia adalah “membangkitkan percikan” ini kembali ke sifatnya yang ilahi, yang hanya bisa dicapai dengan menjalani hidup yang suci; tindakan yang dilakukan sehari-hari bisa memicu atau menghalangi kebangkitan atau pemulihan percikan ilahi. Pemenuhan diri menurut Kabbalah adalah Tuhan membutuhkan aksi manusia agar potensi dunia bisa terpenuhi. Tanpa kita, Tuhan tidak lengkap. Sebagai gantinya, kita bebas merenungi misteri Tuhan dalam ciptaannya.

Di sini, Daniel C. Matt mengutip perkataan Moses de Leon: “Betapa indahnya mengetahui bahwa Tuhan menciptakan semua makhluk. Dari suatu makhluk, jiwa bisa merasakan eksistensi Tuhan, yang tidak memiliki awal maupun akhir.” Dengan sering memikirkan kebesaran Tuhan, kita akan menjadi rendah hati dan hanya menjadi kendaraan bagi ekspresi Tuhan. Dov Baer, seorang ahli Hasid abad ke 18 berkata : “jika kamu berpikir dirimu adalah sesuatu, Tuhan tidak akan muat dalam dirimu, karena Tuhan sangat besar.” Kabbbalah adalah tentang pemenuhan diri, tetapi pemenuhan semua potensi kita ini hanya bisa terjadi melalui “kedekatan dengan Tuhan”. De Leon berpendapat bahwa jika jiwa mengambil rupa manusia karena jiwa belum lengkap dan harus dilengkapi “dalam semua dimensi”.

Nah, hidup kita di bumi ini adalah tentang pemenuhan tujuan yang diberikan Tuhan, dan Kabbalah menyediakan jalan untuk memahami diri yang dibutuhkan untuk mengetahui tujuan ini. “Membangkitkan percikan” berarti mulai mengenali dan memenuhi potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Karena Kabbalah berisi tentang hal-hal mendasar tentang diri Tuhan, Kabbalah bisa membuat seseorang keluar dari orbit pikirannya yang biasa, dan para ahli Kabbalah tahu bahwa pengetahuan mistis bisa membuat seseorang menjadi gila jika mereka tidak bisa menggabungkannya dengan pengetahuan mereka tentang dunia. Dalam hal ini Daniel C. Matt mengutip tulisan Isaac dari Akko: “Berusahalah melihat cahaya surgawi, karena aku telah membawamu masuk kedalam sebuah samudra yang luas. Hati hatilah! Berusahalah melihat, tetapi jangan sampai mati tenggelam.”


Guru Kabbalah tidak pernah berbuat yang tidak benar untuk mencari pengikutnya kerena alasan yang sederhana. Bahwa tidak ada gunanya memaksakan ajaran kepada orang yang tidak siap untuk berenang didalamnya. Tetapi bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkan perkembangan spiritual, Kabbalah adalah tanah yang kaya akan inspirasi dan panduan, yang bukan hanya milik agama Yahudi melainkan umat manusia seluruhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar