Rabu, 20 Januari 2016

Meninggalkan Madinah Karena Rindu Pada Sang Kakak di Negeri Persia


“Di Haram Sayyidah Fatimah Ma’shumah, Lauren Booth, iparnya Tony Blair, mengalami pengalaman ruhani dan spiritual, yang entah kenapa, sebagaimana ia ceritakan, ia mengalami suatu kedamaian bathin yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, singkatnya mengalami pencerahan. Dan tak lama setelah itu, Lauren Booth pun kemudian menyatakan diri menganut Syi’ah Islam.”

Tapi siapakah Sayyidah Fatimah Ma’shumah? Berikut riwayat singkatnya:

Rombongan yang dliputi rasa bahagia dan diringi bacaan sholawat itu telah tiba di kota Qom, Persia (kini Iran). Masyarakat setempat menyambutnya dengan menyembelih kambing. Hal itu dilakukan supaya tamu istimewa tersebut dilindungi dari segala bencana.

Tamu istimewa itu adalah salah satu keluarga Rasulullah Saw. Ketika masyarakat setempat mendengar bahwa putri Imam Musa Al-Kazhim as, Sayidah Fatimah Ma’shumah, akan berkunjung ke kota Qom (Persia), mereka sangat bergembira.

Sayidah Fatimah Ma’shumah disambut gembira oleh masyarakat setempat dengan rasa haru yang mendalam. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.

Mereka teringat dengan ayahnya, Imam Musa Al-Kazhim as, dan saudaranya, Imam Ali Ar-Ridho as. Dengan tibanya Sayidah Fatimah Ma’shumah, aroma keluarga Rasulullah Sawaw bertambah semerbak di seluruh penjuru kota tersebut.

Masyarakat menyadari bahwa Rasulullah Saw dan keluarganya adalah petunjuk kebahagiaan dan sumber keberkahan. Selain itu, peninggalan mereka dinilai sebagai sumber yang istimewa bagi ummat Islam. Di mana pun ditemukan tanda-tanda yang bersumber dari manusia-manusia langit tersebut, rahmat dan keberkahan ilahi dapat dirasakan di sana.

Sangat lah wajar, jika Rasulullah Sawaw menegaskan bahwa mencintai keluarganya merupakan sumber kemuliaan dan ketakwaan.

Kini kota Qom dilingkupi cahaya ilahi yang bersumber dari makam suci Sayidah Fatimah Ma’shumah. Ribuan peziarah setiap harinya memadati makam suci perempuan agung dari keluarga Rasulullah Sawaw itu.

Makam suci itu terletak di jantung kota Qom yang juga salah satu pusat ilmu agama di dunia. Para pelajar dari seluruh penjuru dunia mendatangi kota ini untuk menimba ilmu agama.

Dalam Islam, kesempurnaan dan kepribadian manusia sangat berhubungan erat dengan keimanan dan keilmuannya. Manusia makin sempurna ketika terus melangkah ke arah keimanan dan keilmuan. Dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, Allah Swt berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.”

Ayat-ayat Al-Qur’an menafikan keistimewaan seseorang atas orang lain dan menegaskan bahwa seseorang yang paling mulia adalah sosok yang paling bertakwa. Pencapaian ketakwaan dan penjagaan diri dapat dikatakan sebagai sarana terbaik untuk menggapai kesempurnaan. Ini merupakan tujuan sebenarnya dalam kehidupan ini yang diincar oleh para pencari kebenaran.

Sayidah Fatimah Ma’shumah adalah di antara sosok istimewa di kalangan perempuan muslim karena ibadah dan ketakwaannya.

Kelimuan dan keimananan Sayidah Fatimah Ma’shumah menunjukkan posisi dan keistimewaan perempuan dalam sejarah dan budaya Islam. Dalam sejarah disebutkan sejumlah perempuan agung yang berhasil menggapai tingkat kemuliaan dan kemanusiaan seutuhnya. Allah Swt dalam ayat-ayat Al-Quran menyebut Sayidah Maryam (ibundanya nabi Isa as) dan Asiah sebagai tauladan bagi kaum Hawa dan Adam.

Para pakar sejarah dan ulama menyatakan bahwa Sayidah Fatimah Ma’shumah mempunyai tempat yang paling mulia di tengah putri-putri Imam Musa Al-Kazhim as. Ketika Imam Musa Al-Kazhim as tidak ada di tempat, Sayidah Fatimah Ma’shumah menggantikan posisi ayahnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan masyarakat saat itu.

Pada suatu hari, sekelompok pengikut Ahlul Bait as (Kaum Syi’ah) berkunjung ke Madinah untuk menemui Imam Musa Al-Kazhim as dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada beliau. Setelah mereka tiba di kota Madinah, mereka tidak berhasil menemui Imam Musa Al-Kazhim as karena beliau tengah melakukan perjalanan.

Mereka pada akhirnya menyampaikan pertanyaaan yang sudah disiapkan kepada Sayidah Fatimah Ma’shumah yang saat itu masih kecil.

Keesokan harinya, mereka kembali mendatangi rumah Imam Musa Al-Kazhim as, tapi beliau belum kembali dari perjalanannya. Para pengkut Ahlul Bait as (Kaum Syi’ah) kembali meminta pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Imam Musa.

Saat itu, Sayidah Fatimah Masumah yang masih kecil telah menulis seluruh jawaban pertanyaan tersebut dengan detail dan sempurna. Jawaban yang ditulis putri Imam Musa Al-Kazhim as membuat mereka terkejut dan kagum. Ketika Imam Musa Al Kazhim as kembali dari perjalanannya, beliau membaca jawaban sempurna yang ditulis Sayidah Fatimah dan berkata, “Jiwa ayahnya untuknya.”

Terkadang Sayidah Fatimah Ma’shumah as menyampaikan pencerahan kepada masyarakat saat itu dengan mengutip hadis. Dengan ibarat lain, beliau saat itu adalah salah satu perawi hadis. Yang menarik lagi, hadis-hadis yang disampaikan Sayidah Fatimah Ma’shumah berlandaskan pada riwayat kuat yang mengokohkan fondasi kepimimpinan atau imamah. Hadis-hadis yang disampaikannya menunjukkan bahwa kepemimpinan itu ditentukan oleh Rasulullah Saw. Untuk itu, para Imam ma’shum adalah pengganti Rasulullah Saw yang paling layak.

Sayidah Fatimah Ma’shumah lahir pada tanggal 1 Dzulqaidah tahun 173 di kota Madinah. Ayahnya adalah Imam Musa Al-Kazhim as, sedangkan ibunya bernama Najmah Khatoun.

Semenjak kecil, Sayidah Fatimah Ma’shumah menyaksikan langsung para musuh yang mengganggu dan menyakiti keluarga Rasulullah Saw berikut para pengikut mereka. Ketika Imam Musa Al-Kazhim as dipenjara di tahanan Dinasti Abbasiah, Sayidah Fatimah Ma’shumah di bawah bimbingan saudaranya, yaitu Imam Ali Ar-Ridho as, mencapai derajat kelimuan dan keirfanan yang tinggi.

Imam Ali Ar-Ridho as mempunyai hubungan dekat dengan saudara perempuannya, Sayidah Fatimah Ma’shumah. Ketika Khalifah Dinasti Abbasiah saat itu, Makmun, memaksa Imam Ali Ar- Ridho as ke Marv (Khurasan), Sayidah Fatimah Ma’shumah as mulai mengalami masa sulit karena harus berpisah dengan saudaranya yang juga pembimbingnya.

Setelah bertempat tinggal di Marv, Imam Musa Al-Kazhim as menulis surat ke Sayidah Fatimah Ma’shumah. Setelah menerima surat tersebut, Sayidah Fatimah Ma’shumah bertolak menuju kota Marv, tempat tinggal baru Imam Ali Ar-Ridho as.

Di tengah perjalanan menuju kota Marv, Sayidah Fatimah Ma’shumah tiba di kota Qom. Di kota tersebut, beliau tidak dapat melanjutkan perjalanan ke kota Marv. Tidak lama setelah itu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di kota suci Qom.

Karimah Ahlul Bait, Masumah, Mohadasah, Thahirah dan Hamidah adalah di antara gelar-gelar Sayidah Fatimah Ma’shumah.

Gelar yang ada telah menunjukkan kesempurnaan putri Imam Musa Al-Kazhim as itu. Sayidah Fatimah Ma’shumah as adalah sosok yang alim dan bertakwa, pembimbing yang tangguh dan orator.

Dalam bagian doa ziarah kepada Sayidah Fatimah Ma’shumah disebutkan ‘salam kepadamu yang suci, terpuji, berperangai baik, dan bertakwa’. Karena kesucian jiwa Sayidah Fatimah Ma’shumah as, Imam Ali Ar-Ridho as menyebutnya dengan gelar Ma’shumah dan berkata, ”Siapapun yang berziarah ke kota Qom, sama halnya ia berziarah kepadaku.” Imam Ja’far as Shadiq as berkata, ”Seorang perempuan dari sulbiku yang bernama Fatimah, putri Musa Al-Kazhim as, akan meninggal dunia di kota Qom. Para pengikutku akan masuk surga dengan syafaatnya”. 

Lauren Booth