Sabtu, 22 Agustus 2015

Falsafah Ahlulbait dalam Tembang Ilir-Ilir




CAH ANGON….CAH ANGON….PENEKNO BLIMBING KUI….LUNYU LUNYU….PENEKNO KANGGO MBASUH DODO(T) IRO (Anak gembala panjatlah pohon blimbing itu, meskipun licin panjatlah, agar sari pati air blimbing dapat dibasuhkan dalam dadamu).

Di sini yang disebut adalah CAH ANGON (ANAK GEMBALA). Di sini tidak menyebut: Pak RT...Pak Rw...Pak Carik...Pak Modin...Pak Ulu-ulu...Pak Jogoboyo, Pak Lurah. Tidak pula menyebut: Pak Camat...Pak Bupati...Pak Walikota....Pak Gubernur...Pak Presiden. Tidak juga syi’iran ini memanggil dalam tembangnya: Pak Kepala Dinas...Pak Dirjen....Pak Menteri. Tidak pula Pak Kombes...Pak Anjun....Pak Kopral...Pak Jendral. Pun tidak pula menyebut: Pak Guru...Pak Dosen...Pak Dekan...Pak Purek....Pak Rektor.

Tetapi yang disebut dalam tembang ini adalah Bocah Angon, panggilan universal yang dipakai untuk manusia. Karena hakekat manusia adalah bocah angon, sekurang-kurangnya mereka yang angon dirinya sendiri, hingga angon masyarakat, rakyat, negara dan dunia. Karena itu kanjeng Sunan memanggil dengan sebutan Cah Angon. Apapun Predikat hebat yang menyebabkan manusia dipuja-puji, yang setiap lebaran ditumpleki parcel (setiap lebaran dapat kiriman parcel). Yang sugihnya mblegedu (kaya sekali). Yang pinternya njumbul langit (pinter cerdas). Dia hanyalah Bocah Angon. Bocah angon adalah pengkabulan do’a, yang tatkala manusia marah pada kegagalan keturunannya, manusia mengumpat...”nek bodo angon wedhus...po angon bebek wae” (kalau bodoh jadi penggembala kambing atau itik saja).

Namun Tuhan mengangkat prasangka kesal manusia itu dengan menjelmakan mereka tetap menjadi bocah angon yang terhormat: Angon rakyat. Angon murid. Angon duit. Angon sawah. Angon ternak. Angon Mahasiswa. Angon apa saja.

Bahkan sebelum seorang anak manusia diangkat sebagai Nabi, mereka harus lulus di University Para Penggembala dahulu: PENEKNO BLIMBING KUI (Panjatlah Pohon Belimbing Itu). Sunan dalam tembangnya memilih belimbing. Beliau bukan menyebut penekno sawo kui (bukan panjatlah sawo itu), bukan penekno pelem kui (bukan panjatlah mangga itu), bukan penekno duren kui (bukan panjatlan durian itu), bukan penekno jemani kui (panjatlah jemani itu), bukan penekno Jati kui (bukan panjatlah pohon jati itu). Tapi belimbing, bergigir LIMA. (LIMA yang bermakna Limo Janmo Suci (Lima Manusia Suci): Nabi Muhammad saw, Imam Ali Al-Murtadha, Fatimah Azzahra salamun ‘alayha, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Sunan yang menggubah lagu Ilir-Ilir seperti bertutur kepada kita: Engkau tidak dapat nggulowenthah (memelihara) Negerimu yang kaya ini, yang dalam proses perawatanya bakal menemukan kelicinan bila engkau tidak mengguru kepada Limo Janmo suci (Nabi Muhammad saw, Imam Ali Al-Murtadha, Fatimah Azzahra salaamun ‘alayha, Imam Hasan as dan Imam Husain as) itu. Karena sari pati bilmbing Limo Janmo Suci itulah yang akan mengajarkan menempuh jalan yang lurus. Muhammad itu adalah manusia yang sukses menjadi Nabi dan nabi yang sukses jadi manusia. Imam Ali itu adalah manusia yang berhasil menjadi washi (khalifah dan pemegang wasiatnya Rasulullah dan imam pertama) dan seorang washi yang sukses menjadi manusia.

Fatimah ‘alayhas-salam itu adalah anak manusia yang sukses menjadi anak Nabi, dan anak Nabi yang sukses menjadi anak Manusia. Imam Hasan as dan Imam Husain as itu adalah manusia yang sukses menjadi Imam, dan Imam yang sukses menjadi manusia.

Agar orang Jawa itu senantiasa mengguru kepada Limo Janmo Suci itu, sampai-sampai dalam menetapkan hari pun orang Jawa hanya membuat dalam sepasar (lima hari) tidak tujuh hari seperti dalam Masehi. Wiridan Sepasar Jawi terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing (lima hari) dan hanya lima hari.

Pon menggambarkan Muhammad yang pono alias sempurna. Orang-orang Jawa kuno dahulu banyak menamakan anaknya dengan nama depan Pon. Pon itu adalah harinya kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam pasaran atau harinya orang Jawa. Para orang tua berdoa kepada Gusti Allah, bahwa anaknya yang lahir pada hari PON itu kelak kalau sudah dewasa agar bisa PONO atau memiliki kesempurnaan seperti Rasulullah Muhammad saw.

Wage menggambarkan Imam Ali bin Abi Thalib yang wigig, yang pemberani dan kuat. Pada saat konggres Pemuda II 28 Oktober 1928, Wage Rudolph Supratman dengan keberaniannya menggesekan biolanya untuk memperdengarkan lagu INDONESIA RAYA yang kemudian menjadi lagu kebangsaan nasional Indonesia. Wage Rudolph Supratman itu lahir pada pasaran Wage, harinya Imam Ali, dengan spirit wage-nya beliau tersemangati harinya Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

Padanan Kliwon di Jawa itu kasih, ia mengambarkan Fatimah (sa) yang penuh asih. Asihnya Fatimah itu bukan asih yang melenakan dan membutakan, tetapi asihnya Fatimah itu adalah yang ndodoke perkoro nang panggonane (menempatkan sesuatu pada tempatnya –kalau salah yang diberitahu salahnya, kalau dikasih tahu tidak juga nurut atau masih ngeyel ya diberi pelajaran). Bukan karena kasih salah benar didiamkan saja. Makanya Fatimah itu pernah memberitahu seorang tokoh hebat, dikasih tahu juga tidak mendengarkan, maka beliau “ngenengke “ (mendiamkan) orang itu sampai beliau wafat.

PANEKNO BLIMBING KUI (Teladanilah Ahlul Kisa…..Lil-khomsatun utfi bihim, harral jaahilmil haatimah, Al-Mustofa wal Murtadho Wabnahuma wal Fatimah).

Pengiring Gusti Retno Dumilah (Istri Pangeran Diponegoro) itu ada yang namanya Kliwon dan Sipon, dan Kompeni Belanda sangat ketakutan dengan para Kliwon-Kliwon yang punya “daya Ngenengke” (daya mendiamkan) yang pernah dilakukan Fatimah Azzahra yang ternyata sangat ngegirisi itu.

Di Blora ada satu suku anak Jawa yang bernama Masyarakat Samin, di mana mereka pernah membuat VOC pusing tujuh keliling, karena mereka melawan bukan dengan senjata tapi dengan perlawanan “Kliwon”, seperti perlawanan Fatimah Azzahra kepada mereka yang mengingkari ‘wasiat Rasulullah di Ghadir Khum’ dan ‘melanggar’ pesan Rasulullah saat Haji Wada’ itu.

Jika Kompeni Belanda memerintahkan menanam Pisang kepada masyarakat Samin, maka mereka rame-rame menanam Pisang, bukan tunas pisangnya, sehingga ketika tiba masa panen pisang, orang-orang VOC bukanya memperoleh Pisang, tetapi kulit pisang yang membusuk, dan masyarakat Samin dengan tenang menjawab, ”lha ndoro sinyo lak dhawuh tanem pisang to, langgeh meniko hasilipun” (Bukannya Tuan Sinyo memerintahkan kami untuk menanam pisang, kalau pisang ditanam ya hasilnya busuk tuan).

Akhirnya Belanda mengalah dan menjelaskan yang dimaksud adalah Wit Gedang. Maka masyarakat Samin kembali menanam bukan tunas Pisang, Tetapi Gedebok Pisang (Batang Pisangnya) karena wit gedang (Pohon Pisang) itu adalah Gedebok Pisang, bukan tunas Pisang, dan ketika Belanda datang yang ditemukan adalah Batang Pisang Yang Busuk, dan masyarakat Samin kembali menjawab, “Bukannya tuan sinyo memerintahkan kami menanam Pohon Pisang, lha Pohon-Pisang itu lak gedebok pisang to ndoro sinyo, lha ini hasilnya,” begitu seterusnya…..Dengan Gaya Kliwonan inilah, Masyarakat Samin susah ditundukkan dengan mesiu dan meriam. Ini adalah gaya perlawanannya Kanjeng Ibu Fatimah kepada mereka yang merebut warisan Tanah Fadak dan kekhalifahan suaminya.

Semangat Kliwon telah membuat penjajah pusing, dan untuk mengatasinya dibuatlah cerita palsu tentang Kliwon yang identik dengan momedi Jawa (hantu Jawa), setan, dhemit, tetekan, gendruwo, kunti, Banaspati, Pocongan, glundung pringis, thuyul dan lain-lain, yang fungsinya untuk mengkonotasikan Kliwon itu menakutkan, jelek, dan tidak baik yang tujuannya menjauhkan semangat perlawanan Fatimah dari dada orang-orang Jawa. Untuk itu kembalilah kepada esensi dan semangat Kliwon yang asli, kliwonannya kaum Syi’ah Jawa, bukan kliwon bid’ah hasil racikannya Belanda.

Sedangkan ‘Legi’ dalam pasaran (penanggalan Jawa) adalah menggambarkan Imam Hasan as yang lembut, pendamai tapi tetap berkarakter dan berkepribadian. Legi itu watak gula, saat ia bersenyawa dengan unsur apapun, meski wujudnya hilang tapi rasanya dominan, ia memberi karakter, memberi watak, memberi kepribadian, begitulah Imam Hasan. Orang-orang Islam (Syi’ah) harus berterimakasih pada Imam Hasan as, beliau ini berkorban dengan mengabaikan haknya dengan cara memilih berdamai dengan musuhnya. Beliau sangat waskito, bahwa para pengikut sejati Muhammad itu tinggal nyimit (sedikit) kalau dipaksa berperang bisa tumpes kelor (musnah), sebab para pengikut sejati Muhammad sudah banyak yang syahid di pertempuran-pertempuran sebelumnya dan banyak yang gugur akibat diburu oleh musuh-musuh Islam, maka lebih baik beliau berdamai saja. Agar bisa ngesuhi (merawat secara lebih serius) sisa-sisa pengikut peninggalan kakek dan ayahnya ini. Orang-orang ini mesti dididik agar berkarakter dan berkepribadian.

Legi adalah gula, tetapi tidak semua gula memberikan cita rasa dan karakter manis yang khas. Coba kalau sesekali main ke Jogja atau Solo, mampirlah ke Warung Coboy, di Jogja dinamai angkringan atau warung hik, tanyakan ke penjualnya bagaimana gula yang baik itu, mereka pasti menjawab bahwa gula yang baik itu adalah gula yang dirubung tawon gulo (dikerumuni dan dihinggapi lebah madu). Lebah, makhluk yang disebut dalam Al-Qur’an mendapat wahyu selain manusia, simbolisasi dari jiwa seorang Mukmin. Imam Hasan as dengan perdamaian itu ingin lebih berkonsentrasi mendidik pengikut kakek dan ayahnya, ini menjadi gula yang akan diburu oleh makhluk-makluk pencari kebenaran sejati, bukan makhluk picisan.

Perhatikanlah hasil strategi Imam Hasan as menjadikan gula-gula bermutu tinggi ini, meski empat belas abad para pengikut kakek dan ayah Imam Hasan, dipisuh-pisuhi (dihujat) orang sejagad, gula itu tetap manis berkarakter dan diburu orang (yang berkarakter pula). Sekarang di negeri inipun butiran-butiran gula bertaburan, banyak orang merindukan manisnya ilmunya.

Terkadang wujud gula itu tak terlihat sebagaimana tidak terlihatnya Imam Hasan as, tetapi yang terlihat adalah rasa gula itu, wujud Imam Hasan as nyaris tidak dikenali tetapi yang tampak jelas adalah hasil didikan Imam Hasan as. Bangsa ini pernah punya tokoh yang menggunakan cara dan startegi seperti Imam Hasan as, yang lebih mengedepankan rasa bukan warna, yang memilih garam ketimbang gincu. Beliau adalah Muhammad Hatta, yang terkenal dengan kebijakan rasa, beliau membuat kebijakan dengan ukuran apa yang dirasakan masyarakat, bukan apa yang tampak untuk masyarakat, sehingga Hatta sendiri nyaris tenggelam, sementara kebijakannya mengabadi.

Sementara itu ‘Pahing’ dalam pasaran (penanggalan Jawa) menggambarkan Imam Husain as. Pahing itu gabungan dua suku kata: Pait dan Hing. Pait artinya Pahit, gambaran Imam Husain as yang menempuh kepahitan untuk menciptakan Hing, yang serba mulia. Oleh karena itu, kata Hing selalu digunakan menyertai untuk sebuah julukan kemuliaan, misalnya Hingkang sinuwun. Sayid Hasan Ali Al-Husaini atau Syekh Siti Jenar pernah berujar, ”kalian ini HIDUP tapi sesungguhnya MATI”. Itu adalah tafsir Syekh Siti Jenar atas perjuangan Imam Husain as ”Yang KEMATIANNYA adalah MENGHIDUPKAN” sedangkan musuhnya ”KEHIDUPANNYA adalah KEMATIAN”.

Ada gugon tuhon (desas-desus) bahwa orang Jawa itu kalau dipangku (dipangkon) matilah dia (Kalau diberikan fasilitas hilang keberaniannya). Pernyataan itu tidak salah, bahkan itu benar. Maka Syekh Siti Jenar memberikan peringatan pada orang Jawa, “Bahwa kalau kalian ini menjadi orang yang senang dipangku, dan menyangka bahwa Pangkuan itu menghidupkan kalian, memulyakan kalian, sesungguhnya sangkaanmu itu salah, karena sesungguhnya kehidupanmu itu adalah Kematianmu”. Lebih baik pilihlah pahing, yang pahit, untuk mendapatkan hing, yang mematikan, tetapi menghidupkan.” Jadi orang-orang tua di Jawa dahulu mengharapkan jika anak-anak dan cucu mereka komitmen dengan mengikuti Limo Janmo Suci itu insya Allah kelak mereka mendapatkan gelar Hingkang Sinuwun Panderek Sejati Muhammad Saking Jawi.

Di Dunia Pewayangan, Sunan Kalijaga mencipta tokoh kebaikan hanya LIMA yang diberi nama PANDAWA, yang watak dan kepribadiannya merujuk pada LIMA Ahlul Kisa (Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain).

Yudistiro yang berdarah putih bersenjatakan Jamus Kalimo Sodo, adalah manifestasi Muhammad saw karena Jamus Kalimo Sodo adalah pribumisasi dari dua kalimat syahadat. Werkudoro yang gagah berani adalah manifestasi Ali bin Abi Thalib. Werkudoro itu punya senjata namanya Godo Rujak Polo dan Kuku Panca Naka. Godo artinya Gada, pemukul dari besi. Rujak artinya rujak, salad Jawa yang dibuat dari campuran bermacam-macam buah-buahan yang dibumbui pedas manis. Polo artinya otak, lebih tepatnya pikiran dan kecerdasan intelektual dan kedalaman bathin-nya. Maka Godo Rujak Polo adalah alat pemukul yang akan melumerkan pikiran-pikiran yang beku. Coba disimak yang termuat dalam Nahjul Balaghah yang memuat pikiran Imam Ali bin Abi Thalib, maka pikiran si pembaca yang semula beku mendadak lumer cair dan cerdas, tak lain karena si pembaca baru saja digodo, di lumerkan pikirannya.

Kuku Pancanaka: Kuku artinya kuku pada jari dan Panca artinya lima, Naka artinya kuku juga. Maka kuku panca naka artinya kuku-kuku yang terlihat. Coba diutak-utik bagaimana supaya kuku terlihat. Apakah ditegakkan, yang melihat kuku hanya sebelah samping. Apakah di tengadahkan, kuku tidak terlihat, karena hanya dari bawah bisa melihat. Apakah ditelungkupkan, ya ditelungkupkan karena semua sudut akan melihat. Itu artinya Imam Ali dengan kuku panca nakanya itu adalah simbol bahwa Imam Ali adalah suka memberi dan menolong, bahkan menolongnya bukan pilih kasih hanya orang samping-samping saja yang diberi. Bukan, itu bukan kuku panca naka, tapi kuku panca iring naka. Maka jadilah tangan-tangan itu taberi (suka memberi dan menolong sesama tanpa pilih kasih) karena dengannya tembayatan (persaudaraan) dapat dirajut (di-dondomi).

Arjuna yang sebagai pengejawantahan Fatimah, bersenjatakan Pasopati, panah yang memiliki alat pengendali. Fatimah itu memiliki senjata berupa pidato-pidato yang akan memanah siapapun yang mengacak-acak tatanan Al-Qur’an yang sudah diajarkan ayahandanya, dan pidatonya fasih, terkendali, hingga pasopati-pasopati menghunjam ke sanubari. Ayatollah Murtadha Muthahhari pernah berkata, “dakwah yang baik itu adalah dakwah yang mampu menembus pikiran dan melembutkan hati seperti dua mata gunting yang bekerja sekaligus”, itulah Godo Rujak Polo dan Pasopati.

TNI AL RI pernah memiliki kapal selam yang dinamai Pasopati, senjatanya Fatimah, yang lesatannya menciutkan nyali musuh. Dan dua anak kembar Nakula dan Sadewa, yang merupakan manifestasi Imam Hasan dan Imam Husain. Berhari-hari para Founding Father’s negeri ini bersidang dalam forum BPUPKI untuk merumuskan ideologi dasar negara Indonesia. Pikiran para cendikia dan ulama diperas habis-habisan untuk menggali kepribadian luhur bangsa Indonesia. Dan ketemunya juga hanya LIMA: PANCASILA, ideologi dasar Negara Indonesia.

Ketuhanan (sila pertama) adalah lambang Muhammad saw yang memperjuangkan ketauhidan. Kemanusiaan adalah sanepan dari Ali bin Abi Thalib yang sepanjang hidupnya berjuang agar manusia tetap menjadi manusia. Persatuan adalah Fatimah, karena Fatimahlah yang menyatukan kembali tinggalan ayahnya yang akan diceraiberaikan. Kerakyatan adalah Imam Hasan, karena perdamaian Imam Hasan itu bervisi kerakyatan. Keadilan adalah Imam Husain, karena perjuangan Imam Husain adalah untuk keadilan, sebab perjuangan Imam Husain untuk hidupnya keadilan. Jika bangsa ini bertanya SIAPA CONTOH KONKRIT MANUSIA PANCASILAIS SEJATI ITU? Jawabnya adalah Ahlul Kisa (Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain). Maka jadilah seperti mereka, niscaya engkau menjadi manusia yang BERPANCASILA.

LUNYU-LUNYU PENEKNO KANGGO MBASUH DODO IRO (Panjatlah meski licin, agar engkau dapat mengambil sari patinya untuk melegakan dadamu).

Sang penggubah tembang Ilir-Ilir sepertinya memahami kesulitan kita saat ini: “Wahai kalian, memang kalian akan menemui kesulitan untuk mencerap sari pati mata air kecemerlangan Lima Manusia Suci (Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain) itu, di mana kalian akan dicaci, akan dihujat. Akan disemati dengan gelaran-gelaran yang tidak mengenakan, seperti dituduh sesat dan kafir. Akan dituduh-tuduh macam-macam. Tapi tetaplah memanjat, tetap raihlah (teladanilah) ahlul kisa’ itu. Karena dadamu membutuhkan sari pati mata air kecemerlangan lima manusia suci tersebut. Karena negaramu membutuhkan sari pati mata air kecemerlangan kalian yang dibasuh dengan keteladanan mereka.”

Panjatlah dan terus panjatlah. Agar dadamu yang rindu redam itu dapat engkau basuh dengan nira sari pati belimbing Ahlul Kisa (Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain).

DODO IRO DODO IRO KUMITER BEDAHING PINGGIR
(Dadamu berlubang sobek pinggirnya). Adalah kewajaran bila dalam perjalanan yang licin itu dada kalian sesak. Itu hanyalah luka kecil. Dan ketahuilah bahwa ilmu iku kalakone kanti laku (Ilmu itu diperoleh dengan upaya yang sungguh-sungguh). Apapun sakitnya tahanlah, bersabarlah meski kalian akan dituduh sesat dan kafir oleh mereka-mereka yang tidak memahami dan mereka yang terhasut karena kebodohan dan tidak adanya ilmu. Lebih baik merasakan pahitnya meraih ilmu, daripada menikmati manisnya kebodohan.

DONDOMONO JLUMATANA KANGGO SEBO MENGKO SORE
(Jahitlah dan rawatlah untuk menghadap sore nanti). Di sini sang penggubah tembang Ilir-Ilir menyebut Dondomono (jahitlah) bukan Tambakno (Berobatlah). Dondomono berarti kemandirian. Tambakno berarti keterlibatan atau kecampur-tanganan. Dondomono itu menyatukan secara mandiri. Seperti Lima Manusia itu menyatukan. Maka seorang bocah angon yang akan merawat negeri cipratan sorga ini harus menyatukan potensi-potensi, bukan semuanya dipasrahke secara bongkoan (diserahkan secara total) kepada asing. Seperti Imam Husain (Beliau ini menyatukan secara mandiri). Beliau ini bukan hanya milik orang Islam. Imam Husain itu milik semua agama, milik semua bangsa. Imam Husain itu bukan hanya ditangisi sedikit orang Islam. Tapi ditangisi Orang Kristen. Orang Katolik. Orang Hindu. Orang Budha. Orang Konghuchu. Orang dari manapun. Dondomono adalah meneladani Imam Husain. Tak perduli dari keyakinan manapun. Karena semua keyakinan, aliran, suku, agama bersatu karena penderitaan Imam Husain, dan Imam Husain adalah perekat yang diciptakan Tuhan untuk menyatukan perbedaan.

Beruntunglah kepada umat Islam karena Ahlul Kisa itu mewariskan Taqiyah. Karena taqiyah bermakna keselarasan. Karena taqiyah bermakna menghormati perbedaan. Dengan membiarkan keyakinan kita disimpan dalam lokus pribadi. Dan mengikuti apa yang lazim di lingkungan. Saking kagumnya sama konsepsi Taqiyah, orang Jawa perlu membuat topi bernama Blangkon, sesuatu yang menghias kepala agar dia selalu ingat konsep agung Taqiyah. Blankon itu simbolisasi Taqiyah. Karena manusia yang arif dan bijaksana itu harus menggumpalkan pandangannya di belakang, manakala di sekitarnya belum siap menerima perbedaan, dan membiarkan dirinya menyelaraskan dengan sekitarnya.

Karena Taqiyah maka orang Jawa harus biso rumongso (bisalah membaca sekelilingmu), bukan rumongso biso (bukan merasa lebih pintar, lebih sholeh, lebih Islami, dan lebih yang lainnya). Maka ketika orang Jawa memakai blangkon, maka ia dianjurkan untuk selalu bertaqiyah (Selalu untuk bisa rumongso). Karena dengan bisa rumongso, maka ndodomi bedahing dodo itu lebih mudah, bahkan jarum-jarum perbedaan itu akan membentuk jahitan yang satu dan yang lain menjadi kuat dan sentausa.

KANGGO SEBO MENGKO SORE YO SURAKO SURAK HIO
(Untuk menghadap sore nanti dengan sorakan penuh suka cita). Jika bangsa ini telah sukses mencerap sari pati Lima Manusia Suci (Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain), maka suka cita akan diperoleh. Dengan terciptanya tatanan yang toto tentrem maka gemah ripah lohjinawi dan kertoraharjo dapat tercapai. Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda, ”Jika bangsanya Salman-lah (Bangsa Iran –Persia) kelak yang akan membawa Islam menjadi mendunia”. Sang penggubah tembang ini ingin agar bangsa Indonesia ini juga menjadi harum namanya seperti bangsanya Salman Al-Farisi. Hingga sampai kelak usai umur semesta berakhir, kesuksesan bangsa ini terletak dalam pilihannya untuk mengambil sari pati Limo Janmo Suci itu (Ahlul Kisa: Muhammad saw, Fatimah Azzahra, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain). Bangsa itu adalah I N D O N E S I A! 


Rabu, 12 Agustus 2015

Renungkanlah Ciptaan-Nya




Dalam salah-satu khutbahnya, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata, “Lihatlah semut dengan tubuhnya yang kecil dan bentuknya yang halus. la hampir tak terlihat di sudut mata, tak dapat pula ditangkap oleh imajinasi—betapa ia berjalan di bumi dan menggunakan rezekinya. la membawa gabah ke lobangnya dan menyimpannya di tempat kediamannya. la mengumpulkan selama musim panas untuk musim dinginnya, dan selama kuat untuk masa lemahnya. Rezekinya terjamin, dan diberi makan menurut pantasnya. Allah Yang Baik tidak melupakannya dan (Allah Yang Pemberi) tidak merenggut haknya, walaupun ia berada di batu kering atau karang yang kokoh.

Apabila engkau memikirkan tentang jalan pencernaannya di bagiannya yang tinggi dan rendah, selaput belulang pada perutnya, dan matanya dan telinganya di kepalanya, engkau akan takjub tentang penciptaannya dan engkau akan merasakan kesulitan dalam menggambarkannya. Mahatinggi Dia yang membuatnya berdiri pada kaki-kakinya dan menegakkannya pada tiang-tiangnya (anggotanya). Tak ada sekutu yang turut beserta-Nya dalam memulainya dan tak ada sesuatu yang berkuasa membantu-Nya dalam penciptaannya. Apabila engkau melangkah pada jalan imajinasimu, dan mencapai ujungnya, hal itu tak akan membawa engkau ke mana-mana kecuali bahwa Pencipta semut itu adalah sama dengan Pencipta kurma, karena segala sesuatu mempunyai (kehalusan) dan detail yang sama, dan setiap makhluk hidup mempunyai sedikit perbedaan.” 

 Kota Teheran, Iran.