Minggu, 28 Desember 2014

Al Kindi




Dia adalah laki-laki Renasissance di dunia Arab bahkan ratusan tahun sebelum Renaissance berkibar di Eropa.  Rasa ingin tahunya yang tak pernah terpuaskan dan pencariannya terhadap kebenaran pengetahuan mengantarkan segala jenis bidang ilmu pada masa hidupnya berada dalam lingkup keahliannya.

Tokoh besar itu memiliki nama lengkap Ya’qub bin Ishaq al-Shabbah al-Kindi (800-866 M). Sepanjang hidupnya ia telah menulis antara 200-270 buku serta makalah. Gelar “Sang Filsuf Pertama Arab” pun dianugerahkan kepada Al-Kindi karena masa hidupnya telah didedikasikan terhadap pengetahuan. Hal yang tidak kalah penting adalah sebab pendekatan akademisnya; garis keturunan murni Arabnya, dan metode pembahasan ilmu pengetahuannya—termasuk metafisika—memuat ilmu agama.

Yang mencengangkan bagi para pembaca karya Al-Kindi masa kini adalah konsistensi Al-Kindi. Dalam membahas teologi maupun sains, dia menggunakan cara diskusi logis. Jelas, dia telah melakukan segala upaya untuk memadamkan setiap prasangka pribadi dalam usaha menemukan apa yang dia sebut sebagai kebenaran.

Bagi Al-Kindi, meskipun bermuara pada Tuhan, kebenaran dapat berasal dari sumber manapun, bahkan dari “ilmu pengetahuan asing” (tulisan dan teori dari non Islam, seperti Yunani dan India). Hanya sedikit ilmuan pada masa sebelum dan sesudah Al-Kindi yang mampu menerapkan standar konsistensi tinggi semacam itu. Dia menerapkan penalaran yang sama terhadap pengajaran filsafat tentang akal dan pengetahuan (hlm. 66-72).

Dalam bidang etika, sumbangsih Al-Kindi  juga sangat penting. Karyanya sekarang yang masih lengkap berjudul Fi al-Hila Li-Daf al-Ahzan (Cara Menghalau Kesedihan). Dia meyakini bahwa penyebab kesedihan itu ada tiga: hasrat memiliki sesuatu yang sulit untuk dicapai; timbulnya pengharapan terhadap hal-hal tersebut; lalu apa yang terjadi kepada kita ketika hal-hal itu sirna atau tak pernah  tergapai.

Maka untuk mengusir sedih, Al-Kindi menyarankan agar hanya memberi nilai terhadap apa yang sungguh-sungguh penting bagi kita. Perlu perjuangan untuk mengekang hasrat guna memelihara keseimbangan rohani. Di sini Ia berhasil menempatkan nilai lebih pada diri manusia, gagasan dan agama ketimbang benda-benda materi (hlm. 75).

Waktu seringkali memisahkan fakta dan fiksi. Masyarakat pada zaman dahulu percaya bahwa Bumi ini datar dan seisi alam semesta berputar mengelilingi planet kita. Namun setelah bukti-bukti terkumpul sedikit demi sedikit, dengan semakin berkembangnya teknologi, maka apa saja yang bertolak belakang dari kenyataan tentu akan makin terlihat jelas dan nyata.

Namun, Al-Kindi acapkali benar, dan hebatnya lagi, metode yang ia terapkan merupakan metode modern. Para dokter dan ilmuan masa kini terkagum-kagum dengan betapa pemikiran Al-Kindi mencerminkan logika modern dan percobaan sains. Mari kita coba membaca tulisannya dibawah ini.

Kita juga dapat melakukan pengamatan hanya dengan merasakan…apa yang dapat diakibatkan oleh udara yang teramat dingin terhadap air. Ambillah botol gelas, isi penuh dengan saju, dan tutup atasnya rapat-rapat. Lalu kita tentukan beratnya dengan menimbangnya. Tempatkan dalam wadah yang sebelumnya ditimbang.

Di permukaan botol tersebut udara berubah menjadi air, yang muncul di atasnya seperti tetesan-tetesan di atas wadah berpori besar, hingga air dengan jumlah yang cukup banyak sedikit demi sedikit terkumpul dalam wadah tersebut. Ukurlah botol tersebut, berat airnya dan juga wadahnya. Dapat diketahui bahwa kesemuanya lebih berat ketimbang sebelumnya, yang membuktikan perubahannya.” (hlm. 107-108)

Demikianlah salah satu tulisannya yang memuat teori-teori berdasarkan metode sains, matematika, dan prinsip-prinsip Islam yang  diterima oleh banyak kebudayaan serta agama lainnya. Tak heran, bila karya-karya Al-Kindi baru ditemukan kembali pada abad keduapuluh satu ini oleh para ilmuan dari seluruh penjuru dunia karena kebenaran tulisannya sering menyentuh batin manusia.

Berkat keahliannya sebagai ilmuwan, dokter mata pengembang optik, astronom, serta filsuf berlogika sains modern,  tulisan Al-Kindi akhirnya menjadi bacaan wajib bagi pelajar Arab dari generasi ke generasi. Tak pelak, seorang dokter dan ahli bedah matematika dari Italia, Gerolamo Cardano (1501-1576), menyatakan bahwa Al-Kindi salah seorang pemikir terbaik sepanjang sejarah (hlm. 113).

Membaca buku ini meyakinkan kepada kita bahwa Al-Kindi merupakan tokoh yang telah berhasil memberi sumbangsih amat besar bagi perkembangan peradaban dunia. Bahasanya ringan, dilengkapi data tahun alur peristiwa, serta diselipi gambar-gambar tentang Al-Kindi, tentu menjadikan nilai plus bagi buku ini [Khotibul Umam]. Judul buku: Al-Kindi, Perintis Dunia Filosofi Arab. Penulis: Tony Abboud. Penerbit: Muara. Cetakan: Pertama, Februari 2013. Tebal: 120 halaman. ISBN: 978-979-91-0544-8. 


Selasa, 23 Desember 2014

Indonesian Military Power 2014

Indonesian Military Parade. 
 Indonesian Navy.
 Indonesian Navy.
 Indonesian Navy.
Indonesian Navy. 
 Indonesian Airforce.
 Indonesian Airforce.
 Indonesian Airforce.
 Indonesian Hercules.
 Indonesian Submarine.
 Indonesian Sukhoi 27.
 Indonesian Sukhoi 30Mk2
 Indonesian Sukhoi Aerobatic.
Indonesian Warship.

Minggu, 21 Desember 2014

Narasi Kuliner dan Problem Identitas



Membaca Konde Penyair Han* (Esai ini merupakan bagian kesimpulan dari esai panjang berjudul Narasi Kuliner dan Problem Identitas, Membaca Konde Penyair Han yang ada dalam buku Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Kritik Sastra DKJ 2013)

Oleh Sulaiman Djaya

Refleksi Bersama

Membaca puisi-puisi Hanna Fransisca yang menarasikan diri mereka dengan ujaran reflektif dan sindiran halus itu, meski berangkat dari latar belakang kehidupan si penyairnya, entah kenangan dan ingatannya tentang tanah kelahiran plus kampung halaman dan sosok ibunya, dan upayanya menggunakan adat tradisi dan mitologi etnik Tionghoa sebagai reference dan kiasan puisi-puisinya, tersebut sebenarnya dapat dibaca sebagai refleksi bersama dalam konteks budaya dan lanskap kewargaan kita di Indonesia. Salah-satu contohnya, yang dengan mempersembahkan beberapa puisinya, yang merupakan dialog fiktif dan upaya mempersembahkan kepada sosok Gus Dur, itu seakan berusaha mengajak dan menegur kita secara halus untuk belajar “bagaimana menjadi manusia” dari figur KH. Abdurrahman Wahid, yang memang telah kita kenal sebagai figur pembela humanisme yang teguh dan lantang, seperti terlihat dalam perjuangan dan upayanya menolak dan melawan diskriminasi SARA dalam konteks politik dan budaya Indonesia.

Berangkat dari dan berdasar aras wawasan tersebut, sejumlah puisi yang termaktub dalam Konde Penyair Han-nya Hanna Fransisca pada dasarnya datang dari seorang wakil warga Negara Indonesia, dari salah-satu etnik dari sekian banyak etnik di negeri kita, ketika ia merasa ada “ketidakadilan”, “prasangka negatif”, dan “tuduhan sepihak” yang merasa perlu ia hadirkan dan ia wacanakan ke hadapan kita semua demi mendapatkan “pemahaman” dan “empati”. Maka wajar, jika dalam beberapa puisinya di buku Konde Penyair Han, itu Hanna Fransisca tak segan-segan menghadirkan dan menggambarkan etnik Tionghoa sebagai korban, utamanya korban amok politik pada peristiwa Mei 1998 di Jakarta.

Peristiwa Mei 1998 tersebut bahkan dapat dikatakan sebagai inspirasi dan rujukan penting bagi kreativitas penulisan beberapa puisinya. Dengan latar dan rujukan itu pulalah kemudian si penyairnya berusaha merefleksikannya dengan jalan menengok atau berziarah kembali ke “genealogy” wangsa dirinya, adat istiadat, dan mitologi Tionghoa, yang tentu saja, sangat ia kenal dan sangat ia akrabi, karena ia sendiri hidup bersama dan menghidupi adat istiadat, tradisi, dan mitologi etnik Tionghoa itu. Inilah salah-satu pijakan dan latar-belakang yang tak dapat diabaikan ketika kita membaca puisi-puisinya Hanna Fransisca dalam buku Konde Penyair Han.

Penerokaan dan refleksi seputar identitas dan etnisitas yang terpancar lewat dan dalam sejumlah puisi Hanna Fransisca dalam buku Konde Penyair Han itu mengingatkan saya pada refleksi-refleksi diarisnya Amin Maalouf yang cukup investigatif dan mencerahkan saat Amin Maalouf mencoba mengangkat dua isu penting tersebut dalam hidup kita secara politik dan kultural. Amin Maalouf dan Hanna Fransisca bahkan memiliki kemiripan reflektif, meski Amin dan Hanna menggunakan media yang berbeda untuk mengangkat soal-soal tersebut, esai dan puisi. Keduanya pun berangkat dari dunia politik-kultural dan pengalaman mereka masing-masing, yang karena sifatnya yang universal itu, kemudian memiliki nada keprihatinan yang tak jauh berbeda. Lewat esai-esai diaris-reflektifnya dalam bukunya yang berjudul In the Name of Identity itu, seperti halnya kemudian nada serupa tampak dalam sejumlah puisi Hanna, Malouf memaklumkan kita bahwa soal identitas dan etnisitas kerapkali menjadi sumber kekerasan dan pertikaian, meski apa yang kita sebut “identitas” itu sendiri sesungguhnya tak pernah ajeg. “Orang bertanya pada saya”, tulis Maalouf, “apakah saya lebih Perancis atau lebih Lebanon? Dan saya selalu melontarkan jawaban yang sama: Keduanya! Saya berkata demikian tidak memaksudkan supaya jawaban saya terdengar adil dan berimbang, tetapi karena jawaban yang lain sama artinya dengan kebohongan” (Amin Maalouf, 2004: 1-5).

Dilema identitas sebagaimana yang diungkapkan Maalouf tersebut serupa dengan dilema yang dialami dan dihidupi oleh Hanna Fransisca, seperti tergambar dalam sejumlah puisinya, di mana ia seorang etnik Tionghoa sekaligus “hidup” di Indonesia, hingga tak teringkari bahwa Hanna adalah seorang Tionghoa sekaligus Indonesia, dan itulah identitasnya, bila kita meminjam logika dan wawasannya Amin Maalouf.

Seperti halnya Maalouf, Hanna pun seakan-akan hendak mengatakan bahwa menetapkan identitas seseorang atau pun kelompok masyarakat secara ajeg bisa menimbulkan masalah dan mengingkari realitas dunia dan hidup saat ini, di mana banyak orang menyandang sematan identitas yang beragam secara bersamaan. Dalam dunia saat ini, sebagaimana diungkapkan Amin Maalouf dan Amartya Sen, misalnya, tak lagi bisa dipahami sebagai konsep general yang mengingkari pengalaman-pengalaman khusus dan unik setiap individu. Sebagai contoh, Kartu Identitas semisal KTP, mestilah lebih dipandang sebagai kebutuhan statistik saja ketimbang sebagai definisi substantif seseorang yang menyandangnya. Sebab, seperti telah kita maphumi bersama, di jaman ini sudah banyak sekali individu-individu yang sebenarnya hidup dengan sekian identitas campuran dan menghidupinya dengan sukarela atau terpaksa, seperti Amin Maalouf yang keturunan Arab-Libanon, beragama Kristen, mengenal bahasa Arab secara fasih yang juga merupakan bahasanya banyak kaum muslim, tapi pada saat bersamaan adalah seorang warga-negara Perancis dan menulis dalam bahasa Perancis. Kenyataan serupa juga dapat kita kiaskan pada kasus Hanna, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, dan kini hidup di Jakarta, akrab dan menghidupi adat istiadat dan budaya Tionghoa, namun pada saat bersamaan tinggal di Indonesia dan menulis juga berbicara dengan dan dalam Bahasa Indonesia.

Selain Amin Maalouf dan Amartya Sen, kita juga bisa menimba refleksi bersama ini dari tulisan-tulisan dan wawasan filosofisnya Richard Rorty, tentu sebagai cermin untuk menilai dan melihat arti refleksi yang dihadirkan oleh sejumlah puisi Hanna Fransisca dalam Konde Penyair Han itu.  Dalam esai panjangnya yang berjudul Consequences of Pragmatism itu, Richard Rorty, yang diinspirasi oleh renungan-renungan filsafatnya Adorno dan Hannah Arendt, dan pengalaman sejarah nasionalisme modern dan rezim kekuasaan politik otoritarianismenya, kita diajak menengok sebuah masa ketika kesadaran kita tergiring kepada pengalaman pahit abad 20, ketika kepercayaan ideologis yang dogmatis malah memanen kekejaman dan kemalangan bagi jutaan ummat manusia. Dalam esai panjangnya yang berjudul Consequences of Pragmatism itu, contohnya, Rorty menginterupsi kepercayaan dan pemahaman kita tentang apa yang kita terima dan kita percayai sebagai kebenaran yang masih berbasis pendasaran metafisik dan universalisme yang mengatasi sejarah alias tidak didasarkan pada pengalaman kefanaan kita yang lebih nyata. “Truth is not the sort of thing one should expect to have a philosophically interesting theory about”, tulis Rorty, “truth is just the name of a property which all true statements share” (Richard Rorty, 1991: xiii-xxi).

Di sini, dialog dan sharing pemahaman merupakan media dan jalan yang mesti dipilih dalam lingkungan sosial dan situasi epistemik dunia modern saat ini, termasuk melalui tulisan dan penyebaran dan publikasi wacana. Menurut Rorty, contohnya,  sudah bukan saatnya lagi bagi kita untuk bertanya “apakah kita” seperti lazimnya filsafat tradisional, tetapi lebih baik bertanya “siapakah kita”, di mana dengan pertanyaan kedua itu kita akan lebih menyadari eksistensi dan posisi kita dalam keragaman dan situasi epistemik jaman ini. Singkatnya lebih realistis, sebagaimana yang juga dibayangkan oleh Amartya Sen dan Amin Maalouf. Tapi, sepertinya, meski hanya tersirat saja, dalam beberapa puisi Hanna Fransisca, pertanyaan dan refleksi “apakah kita” dan “siapakah kita” sama-sama penting. Lebih khusus dan spesifik, dalam kasus sejumlah puisi Hanna Fransisca sebagaimana yang termaktub dalam buku Konde Penyair Han itu, pertanyaan dan refleksinya menjadi “Apakah Tionghoa” dan “Siapakah Tionghoa”, yang kemudian seakan-akan hendak merenungkan, merefleksikan, dan mempertanyakan kembali “Apakah Indonesia” dan “Siapakah Indonesia”.

Dari sinilah kita dapat juga menilai kekhasan sejumlah puisi Hanna Fransisca, minimal dalam pemilihan tema dan isu pergulatan puisi-puisinya dalam buku Konde Penyair Han itu, di tengah dunia penulisan yang berjuang untuk tidak menjadi sekadar “hiburan” dan “propaganda” semata, jika saya meminjam istilahnya Daniele Sallenave, di tengah serbuan kamuflase (rekayasa) buku-buku yang melabelkan best sellers, di mana sastra atau penulisan rentan menjadi komoditas sesaat saja. Di sini, dengan meminjam langsung penuturannya Daniele Sallenave, sastra mendapati fungsi dirinya lebih pada upaya membuka suatu “renungan”, yang tak bakal berakhir dan tak bakal diakhiri, tentang  makna kehadiran manusia-manusia konkret (Kalam Edisi 9, 1997: 63-64). 

Setidak-tidaknya, apa yang “diidealkan” Daniele Sallenave tentang di mana sastra, yang dalam konteks tulisan ini dapat dikatakan di mana puisi, mesti menempati dirinya atau “menjalankan” fungsinya sebagai usaha membuka kemungkinan bagi “renungan” akan manusia-manusia atau subjek-subjek konkret itu tercermin juga dalam sejumlah puisi Hanna Fransisca dalam buku Konde Penyair Han. Sejumlah puisi Hanna Fransisca dalam buku Konde Penyair Han, meski tentu saja tak luput menjadi “pembelaan” subjektif dan sepihak, berusaha menempatkan dan memposisikan diri sebagai suara-suara “perenungan” dan “refleksi-investigatif” dalam soal-soal identitas, kewargaan, dan etnisitas, yaitu “Tionghoa” dan “Indonesia” pada saat bersamaan.

Pustaka

Buku:
Amin Maalouf, In the Name of Identity, Alih Bahasa: Ronny Agustinus, Resist Book 2004.
Amartya Sen, Kekerasan dan Ilusi Tentang Identitas, Alih Bahasa: Arif Susanto, Marjinkiri 2007.
Hanna Fransisca, Konde Penyair Han, KataKita 2010.
Jung Chang, Angsa-Angsa Liar, Alih Bahasa: Honggo Wibisana, Gramedia 2005.
Richard Rorty, Consequences of Pragmatism, Harvester 1991.
Risalah Dari Ternate, Ummu Press Oktober 2011.
Sauk Seloko, Dewan Kesenian Jambi 2012.
Tan Lioe Ie, Malam Cahaya Lampion, Bentang 2005.
Toety Heraty, Hidup Matinya Sang Pengarang, Yayasan Obor Indonesia 2000.
Tuah Tara No Ate, Ummu Press Oktober 2011.
Wahyu Arya, Sebuah Pintu yang Terbuka, Kubah Budaya 2012.

Jurnal dan Majalah:
Majalah BASIS Edisi Maret-April 2007.
Jurnal Kalam Edisi 9, 1997.
Majalah INTISARI Edisi Agustus 2004.

*Edisi yang utuh dan lengkap esai ini dapat dibaca di buku Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013 halaman 145-167. 

Jumat, 12 Desember 2014

Apakah Ekonomi Politik Internasional Itu?



Oleh Zetira Kenang Kania

Jika mendengar kata ekonomi, politik, maupun internasional, tentunya ketiga kata tersebut bukanlah kata yang asing di telinga kita. Ketiga kata tersebut sebenarnya memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Jika kita mendengar kata ekonomi, maka hal yang langsung terlintas di pikiran kita selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pasar dan kesejahteraan. Lalu ketika kita mendengar kata politik, hal yang akan terlintas di pikiran kita selalu mengenai kekuatan, kekuasaan, dan kebijakan.

Sementara itu jika mendengar kata internasional, maka hal yang terlintas di pikiran kita selalu mengenai bagaimana tiap negara ataupun bangsa berhubungan satu dengan yang lainnya. Lalu bagaimanakah jika ketiga kata tersebut digabungkan dalam satu kalimat Ekonomi Politik Internasional? Bagaimanakah pengertiannya dan pentingnya disiplin ini? Serta samakah ekonomi politik internasional ini dengan political economy?

Ekonomi politik internasional sesungguhnya merupakan esensi yang sangat penting dalam hubungan antar negara serta kesejahteraan global. Ekonomi politik internasional tidak hanya mempelajari tentang satu bidang saja, namun juga mempelajari kolaborasi tiga konsep yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Pada hakikatnya, ekonomi politik internasional merupakan suatu bidang yang fokus utama konsepnya merupakan hubungan antara kekuatan publik dan swasta dalam hal alokasi sumber daya (Ravenhill, 2008).

Tiap negara tentu memiliki sumber daya, namun diperlukan alokasi dan kebijakan yang tepat untuk mengaturnya. Selain itu, tentu setiap negara akan selalu memerlukan hubungan dengan negara lain terutama dalam hal ekonomi. Oleh karena itu, setiap negara memerlukan kebijakan yang tepat dan lugas dalam mengatur strategi ekonomi politik. Selain itu seperti yang telah kita ketahui bersama, isu globalisasi menjadi isu yang sangat sering dibahas sejak berakhirnya perang dingin sampai saat ini. Isu globalisasi yang kian mengemuka ini kemudian menjadi sangat lekat dengan isu hubungan ekonomi dan politik internasional (Gilpin, 2001).

Situasi seperti ini dapat terjadi karena globalisasi dan meningkatnya ketergantungan ekonomi antar negara merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kedua hal ini pun merupakan hal yang sangat penting meskipun sebenarnya situasi yang terjadi akibat hubungan ketergantungan ekonomi dan globalisasi bukanlah sesuatu yang baru karena situasi integrasi ekonomi dunia yang terjadi pasca perang dunia kedua sebenarnya merupakan situasi yang serupa dengan yang terjadi pada integrasi ekonomi perang dunia I (Gilpin, 2001).

Pendekatan yang ada terhadap ekonomi politik internasional pun bermacam-macam. Misalnya saja pendekatan liberalisme, nasionalisme, dan Marxisme (Gilpin,2001) serta rational choice method (Ravenhill, 2008).

Sejak tahun 1980-an, studi ekonomi politik internasional telah diperkaya baik dengan pendekatan teoritis maupun metodologis. Namun, studi ekonomi politik internasional ini tetap tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah subjek ataupun sebuah metodologis (Ravenhill, 2008).

Dalam pendekatan state-centric realist pada studi ekonomi politik internasional, kepentingan dan kebijakan negara dideterminasi oleh elit politik, tekanan dari kelompok yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat nasional, serta sistem ekonomi politik nasional (Gilpin, 2001).

Sementara itu dalam pendekatan rational choice method menjelaskan bahwa mengapa institusi internasional seperti Uni Eropa juga ikut berperan dalam beberapa bagian, apa efek dari institusi tersebut, dan mengapa beberapa institusi tersebut dapat bertahan lebih lama (Ravenhill, 2008).

Globalisasi ekonomi telah menunjukkan beberapa kunci perkembangan dan pembangunan dunia selama ini seperti perdagangan, keuangan, dan foreign direct investment (FDI) oleh multinational corporation seperti World Trade Organization (WTO). Perdagangan internasional pun terus meningkat. Bahkan semakin banyak objek yang dapat diperdagangkan antar negara seperti intellectual property. Semakin banyaknya objek dan semakin mudahnya masing-masing dari kita untuk menjangkau tempat-tempat yang jauh sekalipun sehingga akhirnya meningkatkan intensitas hubungan dan ketergantungan antar negara. Hal ini tentu berujung pada meningkatnya kompetisi dalam perdagangan internasional (Gilpin, 2001). Bahkan selama era 1980 dan 1990-an, kompetisi perdagangan yang kian intens dapat terlihat dari bertambahnya jumlah industri di kawasan Asia Timur serta semakin banyaknya strategi ekspor dan impor (Gilpin, 2001).

Situasi yang timbul akibat globalisasi ini tentu tidak dapat dihindari. Setiap negara ataupn lapisan masyarakat tentunya mau tidak mau harus menerimanya. Perdagangan bebas, kebebasan pergerakan modal, dan akses tak terbatas yang merupakan target dari pemerintahan internasional tentu mendorong adanya ekonomi politik internasional. Jika hanya mendalami ekonomi internasional, hal ini tentu tidaklah cukup. Aktivitas ekonomi yang terjadi dalam situasi seperti ini bukanlah semata-mata dideterminasi oleh pasar serta ekonomi secara teknis, namun juga dipengaruhi oleh norma, nilai, dan kepentingan sistem sosial dan politik di dalamnya. Oleh karena itu, unsur politik menjadi esensi yang juga sangat penting dalam ekonomi politik internasional. Misalnya saja jika kita melihat dari kondisi yang terjadi saat ini, kondisi ekonomi global sangat dipengaruhi oleh keamanan dan kepentingan politik serta hubungan antara negara dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, Cina, dan Rusia. Hal ini membuktikan bahwa efisiensi ekonomi dan ambisi nasional bersama-sama menggerakkan ekonomi global selama abad 21 ini (Gilpin, 2001).

Beberapa hal tersebutlah yang membuktikan bagaimana ekonomi politik internasional menjadi eksis dan urgen untuk dipelajari serta betapa pentingnya studi ini untuk selalu ditelaah.

Kemudian apakah bedanya studi ekonomi politik internasional ini dengan ekonomi politik? Ekonomi politik internasional dan ekonomi politik memang sebenarnya memiliki kaitan yang erat. Namun keduanya memiliki perbedaan karena pada hakikatnya ekonomi politik merupakan prasyarat untuk peningkatan komprehensi dari implikasi perkembangan dan pembangunan hubungan ekonomi internasional yang baru (Gilpin, 2001).

Ekonomi politik ini mempelajari bagaimana suatu negara mengatur kegiatan-kegiatan ekonomi melalui beberapa kebijakan dan power management yang dimiliki. Sementara itu, ekonomi politik internasional lebih merupakan suatu kolaborasi analisa antara Hubungan Internasional dengan Ekonomi Politik. Ekonomi politik internasional juga lebih menitikberatkan terhadap interaksi antar negara dalam aktivitas ekonomi bersama untuk menghadapi tantangan baru yang tercipta saat globalisasi ini. Selain itu, ekonomi politik internasional saat ini juga selalu diperkaya oleh teori-teori kesejahteraan serta metodologi yang dapat diterima dalam perkembangannya. Sehingga ekonomi politik internasional lebih membahas mengenai mengapa beberapa peristiwa dapat terjadi ketimbang mengenai preskripsi kebijakan yang biasanya diulas dalam ekonomi politik (Ravenhill, 2008).

Berdasarkan pembahasan mengenai ekonomi politik internasional di atas, dapat diketahui apakah sebenarnya ekonomi politik internasional, apa dan bagaimanakah urgensinya, serta perbedaannya dengan ekonomi politik.

Dapat disimpulkan bahwa ekonomi politik internasional dapat membantu kita untuk menelaah mengenai bagaimana dan mengapa terjadi fenomena-fenomena ekonomi dan politik yang terjadi selama interaksi antar negara menjadi semakin intens terjadi terutama saat adanya globalisasi. Memang globalisasi lah yang merupakan isu utama yang dibahas dalam ekonomi politik internasional karena mulai dari fenomena-fenomena globalisasi yang terjadi, hubungan ekonomi antar negara, institusi, serta kebijakan yang ada demi kesejahteraan global kemudian menjadi isu utama dalam kehidupan sampai saat ini.

Sumber: Gilpin, Robert. 2001. “The New Global Economic Order”, dalam Global Political Economy: Understanding the International Economic Order. Princeton: Princeton University Press, pp. 3-24. Ravenhill, John. 2008. “The Study of Global Political Economy”, dalam John Ravenhill: Global Political Economy. Oxford: Oxford University Press, pp. 18-25.