Rabu, 03 September 2014

Tarikh Syi’ah al Islam Bagian Pertama



Oleh Allamah Husain Thabathaba’i

Permulaan kemunculan “Syi‘ah” yang untuk pertama kali dikenal sebagai Syi‘ah Ali as, imam pertama Ahlul Bait as, terjadi pada masa Rasulullah saw masih hidup. Kemunculan dan kemajuan Islam dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun selama periode Bi’tsah telah melahirkan banyak faktor yang —secara alamiah— menyebabkan timbulnya kelompok tersebut di antara sekian banyak pengikut Rasulullah saw.[1] Faktor-faktor tersebut antara lain:

a. Di permulaan periode Bi’tsah, ketika Rasulullah saw menerima perintah Qur’ani untuk mengajak keluarga dekat beliau memeluk agama Islam,[2] beliau menegaskan, “Barangsiapa di antara kalian terlebih dahulu menerima dakwahku, ia akan menjadi wazir, pengganti, dan washî-ku.” Ali as telah mendahului mereka. Ia menerima Islam, menerima Rasulullah saw, beriman kepada beliau, dan siap memikul janji-janjinya.[3]

Sangatlah mustahil pada umumnya, bila seorang pemimpin sebuah pergerakan memperkenalkan salah seorang anggotanya sebagai wazir dan pengganti kepada orang lain di permulaan perjuangan, tetapi ia tidak memperkenalkan pengganti itu kepada para pengikut setianya yang selalu siap berkorban. Atau pemimpin itu hanya memperkenalkannya sebagai seorang wazir dan pengganti, tetapi selama hidup dan periode dakwahnya, sang pemimpin tidak pernah menyerahkan tugas kepadanya sebagai seorang wazir, tidak mengindahkan kedudukannya sebagai seorang pengganti, dan menyamakannya dengan orang lain.

b. Berdasarkan hadis-hadis mustafîdh dan mutawâtir yang dinukil oleh Ahli Sunah dan Syi‘ah, Rasulullah saw menegaskan bahwa Ali as terjaga dari kesalahan dan maksiat dalam ucapan dan perilakunya.[4] Setiap ucapan yang diucapkannya dan setiap perilaku yang dilakukannya selalu sejalan dengan agama, dan ia adalah orang yang paling tahu terhadap seluruh ilmu dan pengetahuan Islam.[5]

c. Ali as. telah menghaturkan pengabdian-pengabdian yang sangat berharga dan melaksanakan pengorbanan-pengorbanan yang sangat menakjubkan. Ia tidur di atas ranjang Rasulullah saw di malam peristiwa Hijrah.[6] Kemenangan dalam peperangan Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar tercapai berkat (kekuatan) tangannya. Jika ia tidak ada dalam peperangan-peperangan tersebut, niscaya Islam dan muslimin sudah musnah di tangan para musuh kebenaran.[7]

d. Pada peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah saw telah memperkenalkan dan menentukan Ali as sebagai pemegang wilâyah (kepemimpinan) umum atas umat manusia dan juga menetapkannya —sebagaimana diri beliau— sebagai pemegang tampuk kekuasaan (mutawallî).[8]

Sangat jelas sekali, seluruh keutamaan di atas dan keutamaan-keutamaan lainnya yang telah disepakati oleh seluruh ulama[9] hanya dimiliki oleh Ali as. Di samping itu, kecintaan Rasulullah saw yang sangat dalam kepadanya[10] menyebabkan sebagian sahabat beliau yang mencintai keutamaan dan hakikat untuk mencintainya, selalu berjalan bersamanya, dan mengikuti jejaknya. Tapi realita ini juga membuat sebagian orang dengki dan iri hati kepadanya.

Lebih dari itu semua, julukan “Syi‘ah Ali” dan “Syi‘ah Ahlul Bait” banyak dijumpai di dalam sabda-sabda Rasulullah saw.[11]

Catatan:

[1] Julukan pertama yang pernah muncul pada masa Rasulullah saw. adalah “Syi‘ah”. Salmân, Abu Dzar, dan Miqdâd adalah orang-orang yang dikenal dengan julukan tersebut. Silakan rujuk Hâdhir Al-‘Âlam Al-Islamî, jilid 1, hal. 188.
[2] “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu‘arâ’ [26]: 214)
[3] Di penghujung hadis itu disebutkan bahwa Ali as. berkata, “Meskipun aku lebih kecil dari yang lain, tapi kutegaskan, ‘Aku akan menjadi wazir Anda.’ Rasulullah meletakkan tangan beliau di atas pundakku seraya bersabda, ‘Anak ini adalah saudara, washî, dan penggantiku. Oleh karena itu, kalian harus menaatinya.’” Orang-orang yang hadir tertawa terbahak-bahak seraya berkata kepada Abu Thalib, “Ia telah memerintahkanmu untuk menaati anakmu.” Silakan rujuk Târîkh Ath-Thabarî, jilid 2, hal. 321, Târîkh Abil Fidâ’, jilid 1, hal. 116, Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 3, hal. 39, dan Ghâyah Al-Marâm, hal. 320.
[4] Ummu Salamah mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ali selalu bersama hak dan Al-Qur’an, serta hak dan Al-Qur’an selalu bersamanya. Hingga hari Kiamat tiba, mereka tidak akan pernah saling berpisah.” Hadis ini diriwayatkan oleh ulama Ahli Sunah dengan 15 sanad dan oleh ulama Syi‘ah dengan 11 sanad. Ummu Salamah, Ibn Abbas, Abu Bakar, ‘Aisyah, Ali as., Abu Sa‘îd Al-Khudrî, Abu Lailâ, dan Abu Ayyûb Al-Anshârî adalah para perawi hadis ini. Silakan rujuk Ghâyah Al-Marâm, karya Al-Bahrânî, hal. 539-540.
Rasulullah saw. bersabda, “Semoga Allah selalu merahmati Ali! Ia selalu bersama dengan hak.” Silakan rujuk Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 7, hal. 36.
[5] Rasulullah saw. bersabda, “Hikmah dibagi menjadi sepuluh bagian; sembilan bagiannya adalah milik Ali dan satu bagiannya dibagikan di antara seluruh umat manusia.” Silakan rujuk Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jilid 7, hal. 359.
[6] Ketika orang-orang kafir Mekkah mengambil keputusan untuk membunuh Nabi Muhammad saw. dan telah mengepung rumah beliau, beliau mengambil keputusan berhijrah ke Madinah dan bersabda kepada Ali as., “Apakah di malam ini engkau siap untuk tidur di atas ranjangku sehingga mereka menyangka aku masih tertidur di atas ranjangku dan aku merasa aman dari pengejaran mereka?” Dalam kondisi krisis itu, Ali as. menerima permohonan tersebut dengan dada terbuka.
[7] Silakan rujuk buku-buku referensi sejarah dan hadis.
[8] Hadis Ghadir Khum adalah salah satu hadis yang diterima secara aklamasi oleh Ahli Sunah dan Syi‘ah. Lebih dari seratus sahabat telah menukil hadis tersebut dengan sanad dan redaksi yang berbeda. Hadis ini juga telah ditulis dalam buku-buku referensi hadis Ahli Sunah dan Syi‘ah. Untuk menelaah lebih lanjut, silakan Anda rujuk Ghâyah Al-Marâm, hal. 79, Al-‘Abaqât, pembahasan tentang Ghadir Khum, dan Al-Ghadîr.
[9] Târîkh Al-Ya‘qûbî, cetakan Najaf, jilid 2, hal. 137 dan 140; Târîkh Abil Fidâ’, jilid 1, hal. 156; Shahîh Al-Bukhârî, jilid 4, hal. 107; Murûj Adz-Dzahab, jilid 2, hal. 437; Ibn Abil Hadid, jilid 1, hal. 127 dan 161.
[10] Shahîh Muslim, jilid 15, hal. 176; Shahîh Al-Bukhârî, jilid 4, hal. 207; Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hal. 23 dan jilid 2, hal. 437; Târîkh Abil Fidâ’, jilid 1, hal. 127 dan 181.
[11] Jabir bercerita, “Suatu hari kami berada di sisi Rasulullah saw. Tiba-tiba Ali nampak dari jauh (sedang datang mendekat). Rasulullah saw. bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Orang ini dan para pengikut (Syi‘ah)nya adalah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat.’” Ibn Abbas berkata, “Ketika ayat “sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka adalah sebaik-baik makhluk” turun, Rasulullah saw. bersabda kepada Ali, ‘Maksud ayat ini adalah engkau dan para pengikut (Syi‘ah)mu. Pada Hari Kiamat, kalian rida terhadap Allah dan Dia pun rida terhadap kalian.’” Kedua hadis tersebut dan hadis-hadis yang lain disebutkan dalam Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 6, hal. 379 dan Ghâyah Al-Marâm, hal. 326.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar