Sabtu, 09 Agustus 2014

PEPSI = Pay Every Penny to Save Israel



Institut Riset Media Timur Tengah (MEMRI) telah merilis pernyataan berbahasa Inggris yang diberikan oleh seorang pemuka Islam di Mesir pada bulan Februari 2009 silam, di mana dia menjabarkan bahwa PEPSI sebenarnya adalah kepanjangan dari “Pay Every Penny to Save Israel” atau “Sumbangkan setiap penny untuk membantu Israel.” Para pemuka Muslim dengan tegas menyatakan mereka takkan pernah menarik pernyataan yang mengemukakan bahwa Pepsi Cola esensinya adalah nama kode bagi komplotan Zionis Global.

Sebelumnya, seorang anggota parlemen organisasi Hamas di Gaza juga mengeluarkan pernyataan sama tentang hal tersebut pada April 2008 silam. Berbicara dalam stasiun TV Al Aqsha, anggota perlemen Salem Salamah menyatakan, “Ada berbagai perusahaan yang didirikan oleh para kolonialis dan pendudukan – berbagai perusahaan besar dengan banyak cabang di seluruh penjuru dunia, seperti Pepsi, Pepsi Cola. Ini adalah perusahaan terkemuka. Pepsi adalah kepanjangan dari Pay Every Penny to Save Israel.”

Terkait dengan hal itu, pada Februari 2009 silam, seorang pemuka Mesir Hazem Abu Ismail mengeluarkan pernyataan yang sama. Berbicara di depan Al Nas TV – sebuah kanal religius Muslim- Abu Ismail menyerukan sebuah boikot dari kaum Muslim terhadap Pepsi karena kepanjangannya tersebut.

Secara spesifik, Hazem Abu Ismail menyatakan, bahwa berdasarkan transkrip yang sama yang diberikan oleh MEMRI, Institut Riset Media Timur Tengah yang berbasis di Washington tentang arti dari nama Pepsi tersebut.

Huruf P pertama berarti “Pay” (Berikan), E untuk “Every” (Setiap). Huruf ketiga untuk “Penny”. Penny adalah koin kecil yang anda terima dan anda tak tahu apa yang akan Anda lakukan dengannya. Berikan itu untuk S “Save” (Menyelamatkan/Membantu), I – “Israel”.

Dengan kata lain, berikan setiap koin kecil yang Anda terima untuk membantu Israel. Mereka tak ingin uang Anda – mereka hanya ingin koin pecahan kecil, penny Anda. Bila saya tidak salah, dalam ekonomi Amerika, penny adalah seperseribu dollar. Nilainya kecil sekali, kata Hazem.

Mereka mengatakan, “Sumbangkan pecahan kecil yang tidak Anda butuhkan, tetapi berikanlah dengan alasan yang benar. Bila Anda mengumpulkan pecahan kecil ini, Anda bisa membeli minuman ini.” Mereka mengambil masing-masing kata awalan dan membentuk kata “Pepsi”. Bila anda membayar (untuk membeli Pepsi), Anda akan menyelamatkan Israel.

“Saya tidak hanya bicara tentang Pepsi, tetapi tentang Coca Cola dan kesemuanya. Saya tak akan menyebutkan suatu produk. Anda bisa lihat sendiri. Anda Muslim. Anda bisa sampaikan kepada saya. Saya tidak tahu. Anak kecil saya bahkan lebih tahu tentang boikot ini daripada saya. Saat kami pergi belanja, dia katakan pada saya, “Beli ini, jangan yang itu.” Dia mengetahuinya. Dia sudah menjadi ahli dalam hal ini”.

Selama bertahun-tahun, The Coca Cola Company dan produk-produknya banyak menuai kritik oleh berbagai kalangan atas bermacam-macam alasan termasuk efek negatif produk-produk tersebut terhadap kesehatan, lingkungan, penggunaan pestisida dalam jumlah yang besar dalam produk-produknya, praktek eksploitasi buruh dan masih banyak alasan lagi.

Tidak sedikit pula dari alasan-alasan tersebut yang membawa perusahaan tersebut menghadapi tuntutan hukum dan menciptakan kontroversi yang terdapat pada logo produk Coca Cola.

Dalam logo Coca Cola jika dibaca terbalik akan menjadi sebuah tulisan Arab yang bisa dibaca jelas sebagai “Laa Muhammad Laa Mekkah”, yang berarti tidak ada Muhammad, tidak ada Mekah.

Maulana Kalbe Jawwad, seorang kepala keagamaan Islam Syi’ah, mengatakan, “Hal ini merupakan penghinaan terhadap Tuhan. Kami akan meminta Muslim di negara ini dan seluruh dunia untuk memboikot produk tersebut sampai perusahaan tersebut menarik kata-kata yang menyinggung tersebut.

Hingga kini aksi pemboikotan terhadap produk-produk zionis ataupun perusahaan yang memberi sumbangan pada Israel masih terus berlanjut. Bagi para aktivis, meskipun belum bisa membantu saudaranya dalam berjuang, tapi dengan mengalihkan beberapa jumlah uang untuk mengurangi pemasukan ‘sumbangan Israel’ dinilai sebagai aksi nyata yang bisa membantu ‘mengurangi pendanaan Zionis Internasionnal’ untuk menjajah Palestina. (www.shabestan.net)

Israel Di Mata Yisroil Weisz

Yisroil Weisz, seorang Rabbi Yahudi terkemuka yang vokal menentang gerakan Zionisme, mengatakan bahwa berdirinya negara Israel adalah sumber petaka dan kekacauan bagi dunia, khususnya bagi kawasan Arab dan Timur Tengah.

“Berdirinya Israel merusak semuanya, baik bagi agama Yahudi sendiri atau pun selainnya. Sejak awal berdirinya, gerakan Zionisme sendiri banyak mendapat kecaman dari beberapa pemuka Yahudi dunia,” demikian dikatakan Weisz dalam sebuah wawancara dengan Televisi Phoenix yang berbasis di Hong Kong, sebagaimana dikutip harian berbahasa Arab Akhbar al Alam (24/11).

Menurut Weisz, yang juga anggota Jemaat Yahudi Bersatu untuk Menentang Zionisme (Jama’ah al-Yahud al-Muttahidin Dhidh as-Shuhyuniyyah), pendirian negara Israel adalah sebentuk bid’ah, karena Taurat sendiri tidak pernah mengajarkan untuk hal tersebut.

“Gerakan Zionisme telah merubah arah agama Yahudi yang seyogyanya menjadi agama spiritual menjadi sesuatu yang materialistis dan amat sekuler, yaitu mendapatkan sepotong tanah untuk dijadikan negara, yang akhirnya menghalalkan segala cara,” ungkapnya.

Weisz juga mengisahkan, bahwa ummat Yahudi selayaknya mampu hidup di pelbagai negara manapun. “Sejak ribuan tahun yang lalu, umat Yahudi senantiasa hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa dan umat manapun, di negara manapun. Sejarah juga menuturkan, jika dahulu umat Yahudi hidup berdampingan dengan umat Muslim tanpa adanya masalah.”

Pesan Imam Muhammad al Jawad As

Imam Jawad menganjurkan kita supaya menuntut ilmu, dan beliau menjelaskan keutamaan orang-orang berilmu melalui hadis-hadis dari Imam Ali bin Abi Thalib as. Berikut adalah sebagian hadisnya:

“Hendaklah kamu menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib. Mengkajinya adalah sunnah. Ilmu adalah tali persaudaran antar sesama saudara. Adalah bukti atas keksatriaan. Adalah mutiara di majelis-majelis. Teman dalam bepergian dan hiburan dalam keterasingan.” “Ilmu dua macam: dicatat dan didengar. Tidak bermanfaat ilmu yang didengar jika tidak dicatat. Siapa yang mengenal hikmah takkan sabar atas bertambahnya. Keindahan terletak pada lisan dan kesempurnaan terletak pada akal.” “Sesungguhnya anak Adam mirip sekali dengan timbangan, berat dengan ilmu—dengan akal—atau ringan karena kebodohan.” “Seandainya orang bodoh diam, umat tidak akan berselisih.” 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar