Sabtu, 14 Maret 2015

Popper dan Lakatos dalam Metodologi Ekonomi


Oleh D. Wade Hands (Penerjemah: Banin Diar Sukmono)

Filsafat Ilmu Poperian mempunyai pengaruh yang besar dalam metodologi ekonomi. Falsifikasionisme Poperian pertama kali diperkenalkan ke dalam ilmu ekonomi oleh Hutchison (1938), yang meninggalkan salah satu dari pendekatan ekonomi yang paling dominan. Selain pengaruh langsung itu, Filsafat Poperian juga mempengaruhi metodologi ekonomi yang cermat dari Imre Lakatos. Hampir semua literatur sudah mengambangkan pertanyaan sekitar penggunaan program metodologi penelitian ilmiah untuk ekonomi dari lakatos (MSRP).

Dalam tinjauan ini, Falsifikasionisme Poperian dan MSRP Lakatos akan dianalisa. Neo-institusionalisme ilmu ekonomi tidak akan dibicarakan secara eksplisit. Fokus pembicaraan adalah tentang standar umum teori ekonomi, yang mempunyai pengaruh di setiap teori ekonomi (termasuk neo-institusionalisme). Keseluruhan diskusi tentang posisi filsafat akan ditinjau hanya dengan hubungannya terhadap metodologi ekonomi. “Ekonomi” yang berhubungan dengan ilmu ekonomi dan bukan penyelidikan lapangan lain akan didiskusikan. Dan metodologi yang hanya berhubungan dengan pertanyaan teori pilihan (theory choice) dan teori peninjauan (bukan lagi pertimbangan filsafat umum) yang akan ditinjau. Terutama pertanyaan seperti kondisi metodologi ekonomi tidak dijelaskan di sini.


Falsifikasionisme
Tidak diragukan lagi Karl Popper terkenal dengan Pendekatan Falsifikasionsmenya dalam Filsafat Ilmu. Teori ini pertama kali diperkenalkan dalam logic der forschung tahun 1934. Falsifikasionisme memperlihatkan pandangan Popper tentang pertumbuhan ilmu pengetahuan sebagai solusi (atau dis-solusi) terhadap persoalan cara berpikir induksi. Falsifikasionisme diklaim oleh Popper sebagai Kematian Positivisme Logis.

Falsifikasionisme Poperian sebenarnya terbagai menjadi dua tesis. Pertama adalah demarkasi (demarkasi ilmu dan yang bukan) dan kedua adalah metodologi (bagaimana ilmu sebenarnya bekerja). Pernyataan penting (thesis) dari damarkasi adalah bahwa sebuah teori untuk bisa menjadi ilmiah harus setidaknya bisa difalsifikasi dengan observasi empirik, yang juga berarti, harus bisa eksis, setidaknya oleh satu pernyataaan (statement) empiris dasar yang dipertentangkan dengan teori itu. Potensi pem-falsifikasian ini adalah hubungan logis antara teori dan peryataan dasar. Terutama kriteria demarkasi hanya dihasilkan jika kemungkinan logis untuk memfalsifikasi teori, tidak seperti yang pernah dicoba. Saat kriteria demarkasi Popper menjadi topik debat yang serius dalam literatur filsafat. Demarkasi masih jarang menjadi isu dalam ilmu ekonomi. Bagi para ekonom, isu yang lebih penting adalah metodologi (memilih antara/diantara teori yang tidak hanya berlabel ilmiah atau yang bukan) dan metodologi Poperian membutuhkan praktek (bukan hanya logika) falsifikasi dari teori ilmiah.

Singkatnya, praktek falsifikasi ilmiah dapat dapat dijelaskan sebagai berikut. Ilmuwan memulai dengan kondisi masalah ilmiah (sesuatu yang menghasilkan eksplanasi ilmiah) dan mengusulkan perkiraan tegas yang mungkin menawarkan solusi dari masalah itu. Kemudian perkiraan itu diuji ketat dengan membandingkan konsekuensi paling mungkin dengan data empiris yang relevan. Argumen Popper untuk menguji secara ketat adalah bahwa pengujian akan lebih berat dari Prima Facie tidak mungkin konsekuensinya bisa diuiji. Sebuah teori harus bisa ‘“melihat keluar” untuk menawarkan lawan, yaitu kelaziman, keterbukaan yang paling jelas dan memperpanjang permukaan’ (Gellner 1974:171). Langkah terakhir dari permainan falsifikasi bergantung bagaimana teori dapat tampil sebelum tingkat pengujian. Jika implikasi dari teori itu tidak konsisten dengan evidensi, lalu pemikirannya terfalsifikasi dan itu akan dapat digantikan dengan pemikiran baru yang tidak ad hoc relaif dengan yang semula, maka pemikiran baru sebaiknya tidak melulu dibuat untuk menghindari keanehan empiris. Jika teori tidak terfalsifikasi dengan evidensi lalu itu betul-betul dipertimbangkan dengan bukti-bukti yang benar (corroboration/ koroborasi) dan itu akan disetujui untuk sementara waktu. Dengan Falibilisme Poper, persetujuan ini selamanya hanya sementara. Metode ini tidak boleh menghasilkan banyak teori kebenaran, hanya satu yang dapat menghadapi pemikiran empiris dan menang.

Sekarang saat banyak alasan mengapa ekonom merasa bahwa falsifikasionieme Popper akan menjadi metodologi yang diinginkan, faktanya falsifikasionisme masih jarang digunakan dalam ilmu ekonomi. Hal ini adalah poin yang disepakati oleh semua komentator metodologi dalam ilmu ekonomi. Fakta memperlihatkan, klaim empiris ini didukung oleh studi kasus di Blaug (1980), buku yang konsisten mendukung Falsifikasionisme sebagai tujuan (normative) ideal. Ketidaksetujuan antara pengkritik dan yang mempertahankan bukanlah apakah itu telah dipraktekkan atau tidak, itu tidak terjadi, tetapi lebih apakah itu (falsifikasionisme) sebaiknya dilakukan atau tidak. Pertanyaan aslinya adalah apakah pekerjaan sebaiknya berusaha untuk mempraktekkan falsisfikasionisme lebih dulu yang telah gagal sebelumnya, dan pertanyaan apa yang berhubungan dengan ilmu ekonomi akan dikembangkan secara substansial dengan mempraktekkan falsifikasionisme yang hati-hati.

Satu pendekatan untuk pertanyaan kepatuhan falsifikasionisme dalam ilmu ekonomi akan langsung ditujukan untuk pertanyaan kecukupan dari metodologi falsifikasionisme Popper sebagai pendekatan umum untuk pengetahuan ilmiah, ini bukan pendekatan yang akan diikuti disini. Lebih dari menyelidiki pertanyaan umum, diskusi selanjutnya lebih berupa survei sederhana tentang kritik yang didapat falsifikasionisme secara eksplisit sebagai metodologi ekonomi. list dari kritik ini tidak mendalam. Tapi ini managnkap perhatian utama yang dimunculkan untuk falsifikasionisme dalam ilmu ekonomi. List ini tidak memuat hal-hal yang tidak begitu penting.

1. Untuk beberapa alasan. Persoalan Duhemian memberikan kesulitan besar dalam ilmu ekonomi. pertama, kompleksitas dari sikap manusia membutuhkan banyak kondisi-kondisi awal dan asumsi sederhana yang kuat. Beberapa pembatasan mungkin bisa salah (seperti ‘infinite divisibility of comodities’), beberapa asumsi itu mungkin tidak salah secara logika (seperti asumsi ‘diminishing return’), saat masih ada mungkin logika yang salah tetapi dalam prakteknya tidak salah (seperti asumsi komplek dari teori pilihan konsumsi). Saat asumsi dan pembatasan dapat diuji, pengujian seperti itu bisa sangat sulit karena kepantasan kontrol lingkungan laboratorium. Hadirnya begitu banyak pembatasan memperlihatkan ketidakmampuan untuk “aim the arrow of modus tollens” di persoalan elemen partikular dari hipotesa yang dibuat alat pembatu saat contari evidensi ditemukan. Kedua banyak pertanyaan dan ketidaksetujuan tentang dasar empirik dalam ilmu ekonomi. Ini selalu memungkinkan untuk dijelaskan bahwa apa yang diobservasi bisa “tidak pasti” pengangguran sukarela atau “tidak pasti” keuntungan ekonomi dll. Meskipun hal itu adalah hal yang fundamental dalam filsafat Poperian bahwa dasar empirik tidak dapat diperbaiki, adalah perlu bahwa ada konvensi umum yang disetujui tentang dasar empirik, dan dalam ilmu ekonomi konvesi seperti sering tidak pernah ada. Ketiga, sekalipun dua masalah pertama itu mempunyai entah bagaimana yang dihilangkan hal itu masih memungkinkan ilmu sosial untuk mendapatkan efek yang tidak ada di ilmu alam. Pengujian-pengujian dalam teori ekonomi mungkin bisa mengubah dirinya sendiri dari kondisi awal pengujian. Menghubungkan pengujian dari hubungan antara penawaran uang dan level harga mungkin mengubah ekspetasi dalam melihat bahwa kondis awal (yang adalah benar) tidak benar lagi setelah pengujian (atau jika pengujian yang sama akan dihubungkan lagi).

2.  Masih berhubungan, tetapi terpisah dari persoalan Duhemian, adalah persoalan bahwa teknik kualitatif komparatif statistik dalam ilmu ekonomi membuat pengujian ketat sangat sulit dan koroborasi yang ‘murah’ berhasil terlalu mudah. Dalam ilmu ekonomi sangat sering kasus yang mempunyai prediksi kuat adalah hasil dari statistik komparatif kualitatif yang hanya mengkhususkan variabel dalam pertanyaan menaikkan, menurunkan, atau hasil yang sama. Sejak mempunyai tanda yang benar menjadi lebih mudah dari mempunyai banyak tanda yang benar dan besar, adalah tekanan dalam teori umum prediksi kualitatif yang mana rendah dalam konten empiris, mempunyai potensi yang banyak untuk difalsifikasi, dan sangat sulit jika bukan tidak mungkin untuk di uji secara ketat. Hasilnya adalah teori ekonomi yang sering terkonfirmasi dengan evidensi hanya menyediakan sedikit informasi.

3. Popper mengakui kesalahan (1983:xxxv) untuk mengembangkan teori kecukupan dari verisimilitude akan memberikan kesulitan yang fundamental untuk falsifikasi metodologi dalam ilmu ekonomi. Teori verisimilitude Popper dikembangkan sebagai usaha untuk merekonsiliasi metode falsifikasionisme dengan realisme ilmiah. Untuk tujuan realis ilmu pada teori kebenaran; menurut falsifikasionisme, teori ilmiah sebaiknya memilih jika mereka telah terkoroborasi dengan melewati pengujian yang ketat. Jika metode falsifikasionisme memenuhi tujuan realis llmu hal itu sebaiknya didemonstrasikan bahwa teori koroborasi lebih mendekati kebenaran. Demonstrasi seperti itu telah tepat sebagai tujuan Teori verisimilitude Poper. Kenyataannya kepuasan teori verisimilitude akan melengkapi filsafat Poper setidaknya memiliki dua jalan berbeda. Pertama, seperti yang sudah disebutkan, akan menjadi penyedia justifikasi epistemologi untuk bermain permainan ilmu dengan aturan falsifikasionisme. Justifikasi seperti itu sangat penting bagi filsafat Poperian sejak tanpa teori verisimilitude itu membuktikan bahwa ada filsafat yang tidak mempunyai rasio yang baik (Popper 1972;22) untuk memilih teori yang Poper rekomendasikan. Fungsi kedua dari teori verisimilitude akan menolong dalam kasus seperti dimana semua teori lebih difalsifikasi. Teori verisimilitude akan menolong dalam kasus seperti itu karena akan menyediakan aturan unuk memilih teori terbaik dalam kasus yang menyusahkan seperti situasi di mana semua teori telah difalsifikasi. Teori verisimiliutude akan menolong dalam kasus seperti itu karena akan menyediakan aturan untuk menentukan mana dari dua teori dalam pertanyaan benar lebih verisimilitude: yang mana lebih mendekati kebenaran. Argumen yang sama bisa dibuat untuk kasus-kasus yang meliputi pilihan antara falsifikasi tapi teori tegas dan koroborasi tapi modest teori: mempunyai jalan untuk menentukan mana yang lebih verisimiluted dengan membolehkan kita untuk memilih teori yang lebih konsisten dengan tujuan ilmu, yang lebih dekat dengan kebenaran. Kedua lebih praktis, fungsi dari teori verisimiluted sangat penting dalam metodologi ekonomi. alasannya adalah para ekonomi hampir selalu menjumpai pilihan antara dua falsifikasi teori, atau memilih antara falsifikasi teori tegas dan banyak model koroborasi. Jika teori verisimiluted Popper telah sukses dan bisa menambahkan aturan falsifikasi yang simple (semua norma justifikasi dan untuk menolong dalam pembuatan keputusan praktis dari teori pilihan) lalu falsifikasionisme mungkin mempunyai aturan penting untuk bermain dalam teori pilihan ekonomi. Tanpa hubungan seperti itu antara pengujian yang ketat dan persamaan kebenaran, metode ini dibatasi nilai dalam mengejar tujuan realis ilmu.

4. Aturan Popper untuk kemajuan teori perkembangan (bukan ad hocness) jarang cocok dalam ilmu ekonomi. Popper memperlihatkan bahwa jika satu teori adalah untuk mendapatkan kemajuan melebihi pendahulunya, teori baru harus diuji secara independen; hal itu harus memiliki kontra empiris yang berlebih, meramalkan fakta baru. Isu ini akan dianalisa lebih cermat dalam seksi Lakatos selanjutnya. Tapi sekarang ini sebaiknya dicatat bahwa kemajuan Poperian mungkin suatu saat akan menarik para ekonom, Kemajuan yang sering dalam ilmu ekonomi adalah (dan sebaiknya) sangat berbeda dengan yang ditentukan Popper. Ekonom sering memperhatikan dengan menemukan eksplanasi baru untuk fakta ternama (bukan baru) atau alternatifnya, dengan menjelaskan fenomena yang diawali dengan sedikit arti teori pembatas: kemajuan apa dalam teori ekonomi (atau kemajuan apa sebaiknya) kompleks dan pertanyaan ongoing, tapi ini nyata bahwa jawaban yang pantas akan membutuhkan perbedaan, dan mungkin lebih banyak kebebasan. Bentuk standar dari penawaran keras dari poperian falsifikasionisme.

Semua kritik itu menambahkan peniliaian negatif dari metodologi ekonomi falsifikasionis. Meskipun nyatanya pengajaran metodologi telah populer di kalangan ekonom. Metode ini gagal untuk menyediakan kecukupan alasan pembentukan aturan untuk menjalankan ilmu ekonomi. Kesetiaan keras terhadap norma falsifikasionisme sebetulnya akan menghancukran semua teori ekonomi yang ada dan meninggalkan para ekonom dengan buku aturan untuk permainan yang tak sama dengan apapun yang mereka kerjakan sebelumnya. Harga yang tingi ini akan dibayar tanpa ada jaminan bahwa mematuhi aturan baru akan menghasilkan teori yang mendekati kebenaran tentang sikap ekonomi dari yang ada sekarang. Bagaimana hasil ini sebaiknya diinterpretaikan akan didiskusikan dalam kesimpulan, sekarang ayo kita melihat MSRP LAKATOS.  

Metodologi Program Penelitian Ilmiah
(Methodology of Scientific Research Programmes/ MSRP) Lakatos
Karya Filsafat Ilmu Lakatos pertama kali muncul di awal 1970an (Lakatos 1970, 1971) dan membantu banyak ekonom. Banyak makalah lakatos muncul dalam literatur ilmu ekonomi, Banyak hasil dari Nafplion Colloquium on Research Programmes berada dalam Physics and economics tahun 1974 (Latsis 1976a). Literatur tentang Lakatos dan ilmu ekonomi ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah historis, berusaha untuk mekonstruksi ulang beberapa bagian episode dalam sejarah pemikiran sekitara Lakatosian. Kedua lebih bersifat filosofis. Berusaha untuk menilai MSRP Lakatos sebagai metodologi ekonomi dan atau menbandingkannya dengan filsafat lain seperti Kuhn atau Falsifikasionisme Popper.  

MSRP Lakatos jelas adalah bagian dari tradisi Filsafat Ilmu Poperian tetapi juga dimotivasi oleh sejarah pemikiran filsafat ilmu seperti Kuhn (1970). Bagi Lakatos unit penilaian utama dalam ilmu adalah “program penelitian” yang lebih baik dari teori ilmiah. Ansambel penelitian program ilmiah terdiri dari hard core, heuristik positif dan negatif, dan protective belt. Hard core menyusun presuposisi metafisika yang fundamental dari program; hal itu mengartikan program, dan elemennya berbicara sebagai argumen yang tidak bisa dibantah oleh praktisi. Untuk ikut dalam program adalah untuk setuju dan dipandu oleh program hard core. Sebagai contoh, dalam rekonstruksi Weintraub’s Lakatosian terhadap program penelitian ilmiah Neo-Walrasian dalam ilmu ekonomi, hard core terdiri dari proposisi seperti berikut: agen memiliki ketertarikan terhadap hasil yang lebih dan agen bertindak secara bebas dan mendesak untuk mengoptimalkan subjek. Heuristik positif dan negatif memberikan instruksi tentang apa yang sebaiknya dan yang jangan dikejar dalam pengembangan program. Heuristik positif akan memandu peneliti untuk menghadapi pertanyaan yang benar dan alat terbaik untuk digunakan dalam menjawab pertanyaan tersebut; heuristik negatif akan meminta pertanyaan apa yang sebaiknya tidak dikejar dan alat apa yang tidak tepat. Jika menggunakan analisis Weintraub’s terhadap program Neo-Walrasian lagi sebagai contoh, heuristik positif akan memberikan perintah yang berisi seperti: konstruksi teori dimana agen optimal, sedangkan heuristik negatif meminta peneliti untuk menghindari teori keseimbangan yang ruwet. Terakhir, protective belt terdiri dari teori program aktual, alat hipotesa, konvensi empiris, dan (menyusun) ‘tubuh’ dari program penelitian. Aktivitas utama dari program terjadi dalam protective belt, itu terjadi sebagai hasil dari interaksi hard core, heuristik, dan catatan empiris program. Untuk program Weintraub’s Neo-Walrasian, protective belt masuk dalam hampir semua mikroekonomi terapan.

Program penelitian dinilai dengan dasar teori dan aktivitas empiris dalam protective belt. Ada kemajuan teoritis jika setiap perubahan dalam protective belt adalah makin bertambahnya konten empiris.; jika itu memprediksikan fakta baru. Program penelitian menunjukkan kemajuan empiris jika kelebihan konten empiris ini ternyata mendapatkan koroborasi (Lakatos, 1970:118). Lakatos juga memerlukan tiga tipe kemajuan, kemajuan heuristik (bukan ad hocness), yang mana spesifikasinya yang berubah bisa konsisten dengan program hard core. Definisi Lakatos tentang teori dan kemajuan empiris mensyaratkan bahwa perubahan dalam pertanyaan konsisten dengan kemajuan heuristik.

Satu contoh nyata hubungan antara Lakatos dan Popper adalah cara pandang Lakatos mengkarakterisasi konten empiris dan fakta baru. Seperti Popper, Lakatos mendefiniskan teori konten empiris sebgai : ‘kumpulan falsifikasi yang potensial: kumpulan dari proposisi observasi itu yang mungkin dapat disangkal’ (Lakatos 1970:98, n2). Jadi, meskipun Lakatos mempertimbangkan kemajuan empiris hingga koroborasi empiris lebih baik dari falsifikasi, karakteristik hubungan antara teori dan faktanya masih termasuk falsifikasi. Banyak isyarat lain dari keluarga Lakatos dan Poperian tapi definisinya tentang konten empiris dan fakta baru adalah yang paling penting dalam penilaian metodologi ekonomi Lakatos.

Di lain pihak, banyak aspek dari MSRP menjadi rintangan yang fundamental bagi falsifikasionisme Poperian. Yang paling signifikan dari hal itu adalah kekebalan hard core terhadap kritik empiris; kekebalan beberapa bagian dari teori ilmiah akan berkonflik dengan pemikiran tegas dan pengujian yang ketat dari metode falsifikasionisme Popper. Popper menjelaskan sesuatu yang diakui bahwa ilmu mempunyai periode berpengalaman dari ‘ilmu normal’ Kuhnian di mana semangat kritis ditahan untuk sementara, tetapi bagi bagi Popper episode itu adalah untuk disesali bukan dibanggakan (Popper 1970). Poin ketidaksetujuan lain adalah pertanyaan tentang koroborasi dan falsifikasi. Saat Lakatos mendefinisikan konten empiris sepenuhnya dalam pandangan Poperian, dia sudah tidak hormat terhadap aturan falsifikasionisme dalam ilmu. Bagi lakatos semua teori itu ‘dilahirkan untuk ditolak’ (1970: 120-1) dan tugas filsafat ilmu adalah untuk mengembangkan teori yang berawal dari fakta ini. Bagi Lakatos kemajuan datang dari koroborasi bukan falsifikasi dari fakta baru. Akhirnya, lakatos menjelaskan cakupan historis meta-metodologi dengan jalan mana sejarah ilmu aktual digunakan untuk menilai berbagai macam usulan-usulan metodologi. Hal ini berbeda dari Popper dimana metodologi adalah murni urusan normatif dan dimana tidak ada jalan yang terbuka bagi sejarah ilmu aktual untuk menolong mengevaluasi metodologi.

Perbedaan itu, dimana Lakatos berbeda dengan Popper tentu saja berada di kemungkinan lakatos untuk memenangkan favour ilmu ekonomi sejak hal itu terjadi di area dimana ada tekanan substansial antara falsifikasionisme dan praktek aktual ilmu ekonomi. Tentu saja ilmu ekonomi penuh (dgn) hard core metafisis; tidak banyak konsensus yang mempertanyakan akan menjadi apa inti utama proposisi itu, tetapi rupaya ada yang menjadi konsensus bahwa presuposisi seperti hard core ada dan bahwa mereka sering mengartikan alternatif program penilaian dalam ilmu ekonomi. Program filosofis seperti falsifikasi Poperian yang mengharuskan praktisi agar sudi memberikan hampir semua bagian dari program penelitian mereka setiap waktu tidak akan memberikan kecukupan penduan untuk para ekonom seperti metodologi Lakatos yang membolehkan untuk seperti menembus hard core. Ketertarikan ekonomi ini bagi Lakatos terlebih Popper juga memperpanjang isu antara koroborasi melawan falsifikasi. Ini menjelaskan bahwa falsifikasionisme belum diterapkan dalam ilmu ekonomi dan ada alasan yang baik untuk percaya bahwa pelaksanaan seperti standar yang keras untuk semua tetapi menghilangkan kedisiplinan seperti yang terjadi sekarang. Di lain pihak, ada jumlah aktivitas empiris yang besar dalam ilmu ekonomi, the fact do matter, tetapi persoalan mereka jauh lebih halus dan memiliki pandangan kompleks dari yang diperbolehkan falsifikasionisme.

Terakhir, para ekonom dapat lebih menyukai Lakatos dari Popper dalam pertanyaan tentang aturan dari sejarah ilmu yang mendukung bagian usulan-usulan metodologi. Persoalan umum dari hubungan antara sejarah ilmu dan filsafat ilmu adalah pertanyaan tidak tentu yang berlanjut untuk diperdebatkan dalam literatur, tetapi ekonom sekarang sudah simpatik terhadap usulan-usulan metodologi yang sensitif dalam sejarah kedisiplinan mereka. Para ekonom telah memproduksi banyak literatur yang menggunakan kategori Lakatos untuk merekonstruksi berbagai bagian dalam sejarah pemikiran ekonomi. Banyak dari literatur ini fokus di bagian program penelitian dalam teori ekonomi (dulu atau sekarang) dan mencoba mengisolasi hard core, heuristik positif dan negatif, dan tipe aktivitas teoritis yang terjadi dalam protective belt. Karya seperti itu biasanya dihasilkan dalam penilaian Lakatosian yang positif atau negatif tentang kemajuan dari bagian program penelitian ekonomi. Contoh dari rekonstruksi ini melebarnya jarak antara banyak topik dalam sejarah pemikiran ekonomi.

Keseluruhan taksiran tentang literatur sejarah lakatosian sangat sulit sebab banyak ekonom menulis di bagian yang mendapatkan sedikit perhatian mereka menggunakan terminologi Lakatosian. Kekurangan kejituan terminology Lakatos dihasilkan di hard core, heuristik dan (terutama) fakta baru yang menghasilkan sedikit kemiripan dengan analogi Lakatosian atau bagaimana term itu telah digunakan dalam rekonsturksi di ilmu alam. Banyak dari literatur ini memberikan penilaian dan memperhatikan secara bebas sejarah pemikiran ekonomi, tetapi mengeluarkan kecukupan metodologi dari MSRP. Satu kesimpulan umum yang bisa diambil dari literatur sejarah ini adalah bahwa dalam studi kasus dimana bahasa yang relevan konsisten dengan lakatos, kemajuan, dan prediksi fakta baru yang memerlukan pernyataan tidak langsungnya, telah menjadi hal yang jarang terjadi. Telah ada beberapa kasus penelitian yang baik dimana fakta baru benar-benar betul rupanya belum terpenuhi. Tetapi kasus itu korespon kepada hanya bagian yang sangat kecil dari ilmu ekonomi profesi apa yang akan betul-betul mempertimbangkan kemajuan teoritis utamanya. kriteria Lakatos untuk kemajuan teoritis;memprediksi fakta baru, mungkin telah cukup untuk apa para ekonom mempertimbangakn kemajuan teoritis dalam kasus spesial yang dapat dipercaya, tetapi itu tidak berarti memperlihatkan keperluan umum. Hanya sebagai ‘pengembang analisa ekonomi yang akan melihat urusan kesuraman penuh tentang kacamata falsifikasionisme’ (Latsis 1976b: 8), hal itu memperlihatkan bahwa ilmu ekonomi akan melihat hampir seperti hari yang suram dalam pandangan Lakatos yang keras.

Argumen bahwa kemajuan empiris dan teoritis dalam ilmu ekonomi terjadi (dan akan terjadi) dengan cara lain selain spsifikasi Lakatos dalam MSRP, memperlihatkan ketidakbaikan (lagi) pada Popper. Alasannya adalah bahwa dimana ilmu ekonomi adalah yang paling mungkin untuk mengambil jalan bersama Laktos adalah tepat dimana Lakatos meminjam banyak dari Popper. Dalam gambaran yang pasti, karya Lakatos lebih coock untuk ilmu ekonomi dari Popper; itu menggambarkan bahwa apa yang Lakatos sarankan yang sebaiknya dilihat dalam sejarah ilmu ekonomi telah membantu mengembangkan banyak hal penting dalam kajian historis. Tentu saja penelitian historis ini mengambil perhatian tentang metafisis hard core terhadap program penelitian ekonomi pasti dan ini mendukung penyelidikan  kedalam pertanyaan metodologi yang penting dari hubungan antara karya empiris dan teoritis dalam ilmu ekonomi, that is, antara ekonometri dan teori ekonomi. apa yang tidak disediakan MSRP adalah model yang cocok untuk menyetujui atau menolak teori ekonomi. MSRP Lakatos mungkin merupakan kemajuan program ekonomi daripada falsifikasionisme, tetapi masih gagal untuk membantu para ekonom dengan kriteria teori pilihan yang dapat diterima (atau perubahan persoalan kemajuan). Ini terutama memberitahu untuk Popper sejak Lakatosian fit seems to be poorest where older Popperian parts were used with the least modofication.

Kesimpulan
Dalam evaluasi terakhir sepertinya metodologi filsafat Poperian harus diberi nilai rendah. Falsifikasionisme, Program fundamental Popper untuk pertumbuhan pengetahuan ilmiah, terutama ketidakcocokan dengan ilmu ekonomi dan sementara perhatian Lakatos menghaslkan sebuah penilaian kajian historis. Keseluruhan yang dibentuk antara ilmu ekonomi dan MSRP tidaklah bagus; dan justru tidak bagus adalah dimana Lakatos sangat Poperian.

Evaluasi ini tidak akan dengan keras menginterpretasikan pemikiran. Ini hanya memberikan argumen bahwa metodologi Poppper, yang dalam hal ini Falsifikasi dan MSRP, tidak memberikan standar yang sangat baik untuk menilai kecukupan teori ekonomi; ini tidak berarti bahwa Filsafat Poperian tidak memberikan sumbangan sama sekali dalam ilmu ekonomi. terutama, argumen di atas tidak mengatakan bahwa pengujian itu tidak penting dalam ilmu ekonomi, yang Lakatosian rekonstruksi dalam sejarah pemikiran ekonomi tidak memberikan kontribusi penilaian untuk sejarah literatur, atau bahwa para ekonom akan mendapatkan lebih banyak dengan mendengarkan akademi filsafat yang lain.

Di samping disclaim di atas ini juga akan mencatat bahwa diskusi ini telah melupakan sama sekali tulisan Popper dalam filsafat ilmu sosial, dia menyebutnya dengan pendekatan ‘analisis sosial’ untuk ilmu sosial. Metode ini adalah metode untuk menjelaskan behavior agen sosial mengenai basis logis dari agen situasi dan prinisp rasional, telah diusulkan oleh Popper sebagai hasil logika investigasi ekonomi dan itu menyediakan yang bisa digunakan untuk seluruh ilmu sosial (Popper, 1976a: 102). Ini sering membuktikan bahwa prinsip rasionalitas berkonflik dengan standar falsisikasionis Popper, tetapi tanpa memperhatikan bagaimana pandagan ini berkontroversi, poin yang simpel yang ini dicatat di sini adalah bahwa tidak ada kritik di atas dlangsung dihadapkan pada analisis situasional Popper.

Tugas dari bab ini telah nyaris mendefinisikan : untuk mengevaluasi falsifikasionisme dan MSRP sebagai metodologi – sebagai alat untuk memilih antara/diantara teori ekonomi/ program penelitian. Ini membuktikan bahwa filsafat Poperian akan mendapatkan penilaian negatif dalam penggambaran ini, ini tidak mengatakan bahwa ilmu ekonomi tidak mendapatkan apa-apa dari tradisi Poperian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar