Senin, 18 Agustus 2014

Ibn Sina, Ketika Islam Mencerahkan Barat yang Dogmatis



Ibnu Sina (980-1037) dikenal sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia. Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, ia adalah "Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.

Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi al Thib atau Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.  Nama lengkapnya adalah Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan Arab: أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir tahun 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Ia pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.
 
Pada jaman ia hidup, ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari jaman Plato, sesudahnya hingga jaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, aljabar, trigonometri, dan ilmu pengobatan.

Pada jaman Dinasti Samayid dibagian timur Persia wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid di bagian barat Iran memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di jaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al Razi dan Al Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan.

Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.

Dalam hal ini, Syeikhur Rais Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang berasal dari keluarga bermadzhab Syi’ah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara, yaitu Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 Hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan:

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin dan memanfaatkannya. Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu”

Ibnu Sina memang menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya. Sementara itu, kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, Raja Dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dunia dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Mulk, penguasa Hamedan, tak menghalanginya untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian, ia menulis buku-buku kecil yang disebut dengan Risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, yaitu kitab al Syifa’ dalam filsafat dan Al Qanun dalam ilmu kedokteran kemudian dikenal sepanjang masa. Al Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq Islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 Masehi.

Ibn Sîna tumbuh di dalam keluarga kaya dan terpandang karena ayahnya menjadi wali di Afsyanat sebelum kemudian hijrah ke Bukhara. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga penganut Islam Syi’ah yang intelektual. Ayah dan saudara-saudaranya dikenal sebagai Muslim Syi’ah. Ia juga hidup di dalam sebuah lingkungan bilingual (dua bahasa). Bahasa ibu-nya adalah bahasa Persia sedang bahasa pendidikannya adalah bahasa Arab.

Di Bukhara, Ibn Sîna mulai menerima pendidikan. Oleh ayahnya, ia diberi pelajaran privat dengan memanggil seorang tutor ke rumahnya. Tampaknya pendidikan yang disediakan untuk Ibn Sîna oleh ayahnya berskala sangat luas, mencakup kajian keagamaan Islam dan mata kajian sekuler dari Arab, Yunani, dan tradisi India. Ia memulai pendidikannya dengan belajar menghafal al Qur’an dan sastra dan bahasa Arab, termasuk dasar-dasar keagamaan lainnya seperti fiqh. Ia mempelajari fiqh kepada Abu Muhammad Isma’îl ibn al-Husainî al-Zâhid. Diperkirakan, Ibn Sîna telah merampungkan pelajaran bahasa, sastra dan dasar-dasar keagamaan sebelum usia sepuluh tahun.  

Selanjutnya, ia mempelajari ilmu-ilmu ‘aqliyat kepada teman ayahnya yang Ahli filsafat yaitu ‘Ali Abu Abd-Allâh al-Natilî. Melalui al-Natilî, awalnya Ibn Sîna berkenalan dengan logika, geometri, dan astronomi, serta filsafat Yunani. Dalam beberapa tahun berikutnya ia telah mempelajari logika Aristoteles melalui Organon, geometri-nya Euclid dengan mengkaji Elements, dan juga astronominya dan kosmologi Ptolomy dari Almagest, dan segera bisa melampaui pengetahuan gurunya di dalam ilmu-ilmu tersebut.  

Sejak usia 14 atau 15 tahun Ibn Sîna meneruskan pendidikannya secara otodidak. Ia membaca teks dan uraian di dalam ilmu-ilmu alam, metafisika, dan ilmu kedokteran. Ia mempelajari kedokteran sampai mahir sehingga suatu ketika pada usia enambelas tahun ia telah mampu mengajar dan mempraktikkannya.

Dalam satu setengah tahun kemudian, sampai usia enam belas tahun, ia melengkapi pengetahuannya dengan mereview dan menguasai seluruh cabang filsafat: logika, matematika, ilmu-ilmu alam (fisika), dan metafisika. Pada usia enam belas tahun ini, Ibn Sîna telah secara aktif terlibat di dalam seminar-seminar resmi dan seminar-seminar kedokteran, di mana para dokter/tabib pada masanya datang kepadanya dan memintanya memberi penjelasan.

Di dalam memahami metafisika Aristoteles ia banyak terbantu oleh uraian Al-Farabî (w.950 H.) “Maqâlat fi Aghrâd Mâ Ba’da al-Thabî’at” yang menjelaskan tentang hal tersebut. Tampaknya ia sangat mengalami kesulitan untuk memahami metafisika Aristoteles sebelum membaca uraian Al-Farabî tersebut. Dikisahkan ia telah membaca metafisika Aristoteles empat puluh kali tanpa mengerti, sampai akhirnya memahami maksudnya dari tulisan Al-Farabî. Setelah membaca dan memahami buku tersebut, Ibn Sîna kemudian tidak sekedar memiliki kesiapan untuk memahami metafisika Aristoteles, tetapi bahkan kemudian dia memberikan kontribusinya yang mendalam dan distingtif di dalam keberanian mendefinisikannya.

Ketika usia Ibn Sîna mencapai 21 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya dan di tengah kondisi kehancuran Daulah Samaniyah, Ibn Sîna meninggalkan Bukhara menuju kota Kurkanj di Khawarizm. Di sana, ia disambut oleh wazir Abu al-Husein al-Sahlî di istananya yang menyenangi filsafat serta orang yang mencurahkan pemikirannya untuk filsafat. Ibn Sîna kemudian diperkenalkan kepada Amir ‘Ali bin Ma´mûn, penguasa Kurkanj di bawah khalifah Ma´mûn bin Ma´mûn, yang memperkenankannya tinggal di istananya. Di istana Amir Ali inilah, Ibn Sîna tinggal selama sepuluh tahun sampai 1012 M/402 H. Di Kurkanj ini pula, Ibn Sîna menunjukkan keterlibatannya pada kelompok ilmiah bersama dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Bairûnî (362-448 H.), Abû Sahl al-Masîhî (w. 401 H.), Ahli fisika Abî al-Khair Ibn al-Hasan Ibn al-Khammâr, dan ahli matematika Abi Nasr Ibn al-’Arrâq. yang juga sama-sama berada di istana.

Pada masa tersebut, bintang Sultan Mahmûd Ghaznâwî di Ghazna sedang bersinar semerlang. Sultan Mahmûd menginginkan sinar kemenangannya semakin meluas. Ia ingin agar istananya menjadi yang paling agung. Karenanya ia kemudian menarik para ulama, filosof, penyair, dan ahli hikmah ke istananya dengan segala cara. Ketika ia mendengar kelompok Kurkanj, sultan Mahmûd berkirim surat pada sultan Ma´mûn, yang dibawa utusannya dan berisi permintaan agar mengirimkan seluruh tokoh tersebut ke istananya.

Sesampainya utusan Sultan Mahmûd sampai di Khawarizm, Amir menunjukkan surat kepada para ulama yang namanya tercantum di dalam surat tersebut. Sementara tiga orang –Al-Bairûni, Al-’Arrâq, dan Khammâr– menyatakan ketertarikannya dan akhirnya berangkat ke Ghazna, Ibn Sîna dan Al-Masîhî dengan bantuan Ma´mûn memilih melarikan diri ke selatan. Al-Masîhî tewas di dalam perjalanan di dalam sebuah badai di gurun pasir. Sementara Ibn Sîna dengan susah payah bisa tiba di Baward, lalu menuju Thus dan Nishapur. Akhirnya, ia sampai ke Jurjan yang ketika itu dikuasai oleh Syams al-Ma’âli Qabûs bin Wasymâkir yang menyambutnya dengan baik. Kejadian ini berlangsung masih di tahun 402 H /1012 M.  

Sejak itu Ibn Sîna tinggal di Jurjan dan di sana –dalam usia tiga puluh dua tahun– ia bertemu dengan Abd al-Wâhid Abu ‘Ubaid al-Juzjâni yang kemudian menjadi murid, mendampingi perjalanannya selanjutnya dan sekaligus menuliskan napak tilas kehidupannya. Di sana ia juga bertemu dengan Abû Muhammad al-Syirâzi yang menyediakan satu rumah bagi Ibn Sîna, di samping rumahnya sendiri, yang digunakan sebagai pusat pengajaran. Di mana kemudian ia menulis karangan untuk al-Syirâzi berjudul Kitâb al-Irsyâd al-Kulliyat dan Al-Mabda’ wa al-Ma’âd. Di Jurjan juga, pada tahun 402 H /1012 M, Ibn Sîna memulai penulisan naskah besar kedokteran karangannya, Al-Qânûn fi al-Tibb.

Ketika Sultan Qabus terbunuh dan keadaan politik di Jurjan bergolak, Ibn Sîna –dengan diiringi oleh al-Juzjâni– berturut-turut pindah ke Ray, Quzwain, kemudian ke Hamadan (semua kota tersebut masuk kawasan Iran).  

Di Rayy, kota terkaya di Persia (kini Iran) utara masa itu, Ibn Sîna mengobati pangeran yang terserang melankolia dan depresi, Majd al-Dawlat (387-420 H) di istana kerajaan. Majd al-Dawlat adalah penguasa Buwaihi yang sangat lemah di dalam memerintah. Di dalam menjalankan roda pemerintahan ia “diatur” oleh ibunya, Ratu Dawâjir.

Ketika Sultan Mahmûd Ghaznâwi mengirimkan surat tantangan, Ratu Dawâjir masih dapat membalasnya melalui sebuah surat balasan. Tetapi ketika ibunya meninggal di tahun 1028 M, Majd al-Dawlat tidak lagi mampu mengontrol tentaranya dan bahkan mengundang Mahmûd Ghaznâwi, yang kemudian justeru menjadikannya tawanan. Dalam kondisi demikian, Ibn Sîna tidak menunggu lama lebih lagi, kemudian ia melarikan diri ke Quzwain.

Dari Quzwain inilah kemudian Ibnu Sina pindah ke Hamadan. Di Hamadan, ia dipanggil untuk mengobati penyakit kolik yang diderita Amir Syams al-Dawlat (m 387-412 H.), kepala pemerintahan dari dinasti Buwaihi saudaranya Majd al-Dawlat. Di sana ia tinggal empat puluh hari untuk mengobati Amir sampai sang Amir sembuh dari sakitnya. Ia tiba di sana di akhir tahun 405 H / 1015 M. Karena kesembuhannya, Ibn Sîna sangat dihormati sang Amir. Sampai-sampai Ibn Sîna diberi kehormatan menjadi “menteri pertama“ dan salah satu sahabatnya. Jabatan menteri tersebut dipegang oleh Ibn Sîna tidak kurang dari lima tahun.

Tampaknya Ibn Sîna bersikap sangat tegas di dalam menyikapi tentara dan pegawai yang korup. Angkatan bersenjata kemudian melakukan demonstrasi ke rumahnya, memfitnah lalu menahan dan menangkapnya. Ia ditangkap dan diminta kepada Amir agar dijatuhi hukuman mati. Amir menolak tuntutan mereka, tetapi untuk memuaskan tuntutan mereka, Amir akhirnya memperlakukan hukuman buang. Ibn Sîna terpaksa bersembunyi di rumah Abî Sa’îd bin Dakhduk selama empat puluh hari. Tak lama setelah itu, Amir Syams al-Dawlat sakit kembali, dan Ibn Sîna kembali diminta mengobati. Amir kemudian mengembalikan Ibn Sîna menjadi menterinya lagi.

Di saat Syam al-Dawlah meningal dunia dan Samâ’ al-Dawlat (m. 412-414 H.) menggantikan ayahnya serta memilih Tâj al-Mulk menjadi Wazir, Ibn Sîna menulis surat permintaan suaka politik kepada Alâ’ al-Dawlat, amir Isfahan. Kejadian tersebut diketahui oleh Tâj al-Mulk, yang menyebabkannya ditangkap dan ditahan di benteng Fardajan di wilayah Jarrah sekitar 55 mil di luar kota Hamadan. Ketika itu, harapan untuk keluar dari penjara tampaknya dipandangnya sangat tipis, sampai ia menulis syair:

“Aku masuk dengan pasti sebagaimana telah engkau saksikan,
sementara ketidak pastian menyertai dalam hal kapan keluar”

Namun, di benteng tersebut, ia justru berhasil menyelesaikan penulisan kitab Al-Hidâyat, dan kisah allegoriknya Hayy Ibn Yaqzân.

Ketika kemudian terjadi peperangan antara Samâ’ al-Dawlat –amir Hamadan– dengan Alâ’ al-Dawlat– sang amir Isfahan, Ibn Sîna kemudian dilepas oleh Alâ’ al-Dawlat setelah ia terpenjara selama empat bulan lamanya. Sekeluarnya Ibn Sîna dari penjara. Ia kemudian minta perlindungan ke Isfahan. Di sana, ia disambut dengan hangat. Ibn Sîna tinggal di Isfahan selama tiga belas tahun. Di Isfahan, Ibn Sîna hidup terhormat. Ia hadir di majlis Amir pada setiap malam Jum’at, bertukar pikiran dengan para ulama di hadapan Amir, bahkan menemani Amir ke medan-medan peperangan.

Dalam suatu peperangan menemani Alâ’ al-Dawlat ini, Ibn Sîna terserang penyakit kolik sampai ususnya luka. Penyakit yang menyerangnya tersebut tampaknya parah. Dalam satu hari, Ibn Sîna mengalami nyeri perut sampai delapan kali, sehingga ketika penyakitnya bertambah parah, ia terpaksa kembali ke Isfahan untuk menyembuhkan dirinya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali lagi menemani Alâ’ al-Dawlat. Hanya saja ia tidak memelihara diri dan bahkan banyak membahayakan dirinyasampai penyakitnya kambuh kembali dan ia jatuh tersungkur, walaupun akhirnya berhasil sembuh.

Di dalam perjalanannya menemani Amir ke Hamadan, penyakitnya kambuh di jalan. Ia akhirnya menganggap pengobatan tak akan mampu lagi menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian menghentikan pengobatan dan berpasrah pada takdir. Ia berkata:

“Sesuatu yang mengatur badanku kini
tidak lagi dapat mengaturku.
Sekarang tak ada gunanya lagi pengobatan”

Ibn Sîna kemudian mandi, bertaubat, menyedekahkan miliknya, dan memerdekakan budak-budaknya. Ia kemudian meninggal tahun 428 H / 1037 M dan dimakamkan di Hamadan.

Apabila kita cermati, maka perjalanan hidup Ibn Sîna dari segi produktivitas keilmuannya, dapat dibagi menjadi dua fase: Fase pembentukan (al-Tahsîl) dan fase produktif (al-Intâj al-’Ilmî). Fase pertama, yaitu fase belajarnya dimulai usia lima tahun sampai sepuluh tahun belajar dasar-dasar Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, serta ilmu perbintangan, serta masa-masa belajar sesudahnya. Pada masa ini, Ibn Sîna mengalami masa yang lebih didominasi oleh masa belajarnya yang lebih banyak melakukan penyerapan, di mana aktivitas Ibn Sîna lebih banyak reseptif dan retentif. Sedangkan fase kedua, yaitu fase produktif yang dimulai pada usia dua puluh satu tahun, Ibn Sîna mulai melakukan aktifitas produktif. Setelah masa tersebut, ia secara aktif menghasilkan karya-karya secara produktif dan sintetis. Menyumbangkan teori dan khazanah yang gemilang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar